Beranda Feature Ekspedisi Benteng Indra Patra

Ekspedisi Benteng Indra Patra

BERBAGI

Cuaca siang hari itu, Sabtu (31/7/10) terasa begitu terik. Namun hal tersebut tak sedikitpun menggoyahkan niat tim DETaK untuk berkunjung ke sebuah situs sejarah Aceh yang berada di tepi pantai Ujung Batee, Benteng Indra Patra.

Setelah melalui proses musyawarah sehari sebelumnya, akhirnya tim sepakat untuk melakukan hunting liputan di lokasi Benteng Indra Patra. Selain itu, tim juga sudah mempersiapkan beberapa kamera untuk mendokumentasikannya dalam bentuk essai foto.

Tim beranggapan bahwa usaha ini dilakukan agar semua pihak, khususnya pemerintah dan masyarakat Aceh sendiri peduli terhadap salah satu aset sejarah Aceh yang kini hanya menyisakan puing-puing bangunan itu. Tim juga berharap kelak ada usaha yang serius dari pemerintah untuk melakukan pelestarian terhadap bangunan yang juga dijadikan sebagai objek wisata tersebut.

Sekitar pukul 15.00 WIB, tim tiba di lokasi. cuaca panas siang itu tidak dipedulikan oleh anggota tim. Setelah mendapatkan intruksi dari koordinator, tim dibagi menjadi dua kelompok untuk meliput dua benteng yang masih utuh di lokasi tersebut. Setiap kelompok akan meliput kedua benteng tersebut secara bergantian.

Menurut informasi yang diperoleh, di lokasi tersebut terdapat empat benteng yang terdiri dari satu benteng utama dan tiga benteng tambahan. Di benteng utama, terdapat empat stufa, yaitu bangunan dalam benteng utama yang menyerupai kubah dan terdapat sumur di dalamnya. Selain itu, di benteng utama juga terdapat satu bangunan tempat peribadatan yang terletak persis di tengah benteng.

Di sekeliling tembok yang menutupi benteng tersebut terdapat beberapa lubang yang dijadikan sebagai tempat peletakan meriam. Namun, sangat disayangkan karena hampir semua lubang tersebut sudah ditutupi dengan bebatuan tanpa alasan yang jelas. Selain itu, karena tidak adanya usaha pemugaran yang dilakukan oleh pemerintah membuat benteng utama tersebut terbengkalai dan tak terurus.

Di benteng yang kedua, terdapat tiga bunker sebagai basis pertahanan. Bunker pertama yang terletak di tengah benteng berfungsi sebagai tempat penyimpanan peluru dan senjata. Dua bunker lainnya yang terletak di depan bangunan benteng merupakan tempat peletakan meriam. Di sekeliling temboknya juga terdapat 9 tempat meriam kecil.

Hal yang sangat disayangkan adalah runtuhnya dua bangunan benteng lainnya. Benteng tersebut runtuh sudah sejak lama sebelum tsunami menerjang Aceh. Faktor penyebab runtuhnya bangunan tersebut karena usianya yang sudah sangat lama, sehingga tak sanggup lagi bertahan. Sebenarnya hal itu tak akan terjadi jika saja pemerintah turut serta menjaga dan melestarikan bangunan tersebut semenjak dini.

Letak geografis benteng tersebut yang sangat strategis karena berada di pesisir laut, sehingga menjadi objek wisata yang sangat potensial. Namun, kembali kendala klasik yang dihadapi di lapangan yaitu ketiadaan pusat informasi mengenai benteng tersebut. Di sana hanya terdapat satu papan himbauan yang sudah berkarat. Itu pun bukanlah mengenai informasi terkait dengan benteng tersebut, melainkan larangan bagi pengunjung untuk tidak merusak, mengambil atau memindahkan segala bentuk properti yang ada di lokasi benteng tersebut.

Berdasarkan informasi dari warga setempat, dulu banyak turis yang berkunjung ke daerah tersebut, namun karena tidak tersedianya tempat untuk menanyakan informasi mengenai keberadaan benteng tersebut, akhirnya mereka memilih untuk hengkang dan mencari situs sejarah lainnya.

Selain itu, ketiadaan pusat informasi ini juga berimplikasi pada jumlah pengunjung yang datang ke lokasi tersebut. Sebagaimana pantauan tim selama di lapangan, hampir tidak ada orang lain yang mendatangi lokasi tersebut. Hal ini dikhawatirkan membuat lokasi benteng itu rawan terhadap praktik kriminalitas dan juga aktivitas seksual karena sangat sepi.

Tim juga sempat mengamati sepasang muda-mudi yang berduaan di kompleks benteng utama. Hal ini diketahui ketika seorang anggota tim sedang memotret areal benteng tersebut untuk dijadikan essai foto. Kurangnya pengawasan dan koordinasi dari pemerintah dan masyarakat setempat menyebabkan hal tersebut semakin sering terjadi.

Sekitar jam 17.00 WIB, tim mengakiri peliputan untuk segera beranjak pulang. Namun beberapa anggota tim menyempatkan diri untuk mewawancarai salah seorang narasumber yang berada di sekitar lokasi benteng tersebut.

Pemerintah sudah seharusnya kembali memprioritaskan pelestarian aset-aset sejarah Aceh, salah satunya benteng Indra Patra ini. Jika tidak, maka tidak tertutup kemungkinan generasi Aceh selanjutnya akan melupakan warisan nenek moyangnya ini begitu saja. Besar harapan kita agar pemerintah Aceh benar-benar merealisasikan program pemugaran dan pelestarian ini, sebagai salah satu bentuk usaha untuk mengenang jerih payah dan perjuangan para endatu di masa yang sudah sangat lampau itu.

DETaK | Sammy Khalifa

Comments

comments