Beranda Feature Diorama, Kisah Perjuangan Masyarakat Bali

Diorama, Kisah Perjuangan Masyarakat Bali

BERBAGI

Anggita Rezki Amelia* | DETaK

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
(Foto: Salah satu diorama – Anggita Rezki Amelia/DETaK)

Tangan kanannya cekatan merekatkan satu-persatu dedaunan plastik pada ranting buatan di hadapannya. Kaca frame perlahan ia buka dengan seksama. Lalu mengambil posisi duduk di pinggir frame sebuah miniatur tiga dimensi (diorama-red) yang bercerita tentang bangkitnya organisasi pemuda era 1923-1928. Suasana diorama yang begitu klasik dengan latar balai desa yang berada di kaki pegunungan, ditambah dengan rona lukisan langit yang begitu cerah. Tampak beberapa pemuda-pemudi Bali duduk bermusyawarah di balai desa yang masih beratap rumbia itu. Masing-masing dari mereka menggunakan udeng atau penutup kepala dari kain yang kerap dipakai sehari-hari oleh para lelaki di Bali. Sungguh suasana yang begitu harmoni.

Pria bertubuh tambun itu merenovasi ulang miniatur salah satu dari 33 diorama yang ada di lantai dua Bajra Sandhi, tepatnya diorama ke-23. Setelah hampir 12 tahun lebih, diorama-diorama tersebut belum pernah direnovasi ulang sejak tahun 2000. Maka tak heran, beberapa petugas Bajra Sandhi sibuk melakukan renovasi ulang tiap-tiap diorama, mulai dari membersihkan, mengganti miniatur yang sudah rusak atau usang, hingga mempercantik kembali miniatur yang berkisah tentang zaman pra sejarah masyarakat Bali sampai masa kemerdekaan Republik Indonesia.

IMG_5323
(Bajra Sandhi)

“Waktu itu manusia Bali tidak punya tempat tinggal yang tetap, tidak bisa bercocok tanam,” ulas pria berkemeja biru, salah seorang karyawan Bajra Sandhi. Ia tak canggung memaparkan sejarah masyarakat Bali. Sesekali matanya mengarah kepada salah satu diorama di hadapannya. “Nah, digambarkanlah mereka mencari makan itu di pohon, pegunungan, berburu, sehingga seiring berjalannya waktu (zaman-red) mereka memiliki tempat tinggal yang tetap,” pungkas pria bernama Raka itu, (umumnya dalam masyarakat Bali, huruf ‘a’ di akhir kata dibaca ‘eu’, sehingga  Raka dipanggil ‘Rake’, seperti dalam penyebutan kata ‘senang’), ia pun tersenyum pelan.

Diorama yang saling berdampingan itu menggambarkan dinamika kehidupan masyarakat Bali. Seperti heroik perjuangan rakyat Bali dalam puputan Badung yang terlihat dalam frame diorama ke-20. Puputan Badung sendiri merupakan  bentuk perang perlawanan terhadap Kolonial Belanda oleh masyarakat Badung. “Puputan” berarti tekad bersama antara raja-raja, bangsawan, hingga seluruh masyarakat Badung untuk mengusir Belanda. Dampak dari gerilya Puputan Badung pada 20 September 1906  itu juga tidak main-main, tujuh ribu jiwa menjadi korban perang pada masa itu.

Kemudian ia melanjutkan cerita yang terkadung dalam diorama ke-11. Tentang penobatan Sri Kresna Kepakisan, seorang keturunan Brahmana dari Daha, Kediri yang menjadi penguasa Bali pada periode 1347-1350. Dalam kepemimpinannya, Sri Kresna membentuk dinasti Dalem. “Maka diangkatlah raja pertama dari pengaruh raja Majapahit yang diberi nama Sri kresna Kepakisan, setelah itu pada tahun 1848 masuklah Belanda, menyusuri hutan Badung dan ke hutan Klungkung, inilah yang mengisi kisah diorama-diorama ini,” papar Raka panjang lebar.

Siapa sangka, bangunan diorama tersebut didesain oleh tangan pemuda Bali. Dialah Ida Bagus Yadnya, mahasiswa Universitas Udayana (Unud) yang berhasil memenangkan sayembara mendesain 33 diorama Bajra Sandhi yang dilakukan oleh pemerintah Bali. “Ia merupakan mahasiswa Unud Jurusan Teknik Arsitektur, perancangannya sudah dimulai pada tahun 1981,” sebut Raka.

Ya, 33 diorama di Bajra Sandhi tersebut tentu dapat memukau siapa saja yang haus akan sejarah perjuangan rakyat Bali. Inilah Bajra Sandhi yang digagas oleh Ida Bagus Mantra, Gubernur Bali ke-6 yang tutup usia pada 10 Juli 1995. Monumen perjuangan rakyat Bali ini dibangun pada tahun 1988, lalu resmi di buka pada 14 Juni 2003 oleh Presiden Megawati Soekarno Putri.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
(Foto : Anggita Rezki Amelia/DETaK)

Secara fisik, bangunan yang menghabiskan anggaran mencapai 14,9 miliar rupiah tersebut memiliki tiga lantai. Pada koridor utama Bajra Sandhi terdapat 17 buah anak tangga, 8 buah tiang penyangga dengan ketinggian gedung mencapai 45 meter. “Kalau dilihat  dari filosofi nasional, itu tangganya ada 17, tiang-tiang sebanyak 8 buah, dan tinggi bangunan 45 meter, hal ini melambangkan hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945,” Raka tersenyum.

Siang itu, 20 September 2013. Lapangan puputan renon yang berhadapan dengan monumen Bajra Sandhi tampak lengang. Terlihat beberapa bocah Sekolah Dasar yang asyik bermain, juga beberapa petugas kebersihan yang menyandarkan tubuh mereka di sebuah pohon beringin. Di halaman utama Bajra Sandhi, sejumlah turis non domestik bermata sayu sibuk memainkan kamera digital mereka, memotret berbagai sisi Bajra Sandhi yang berdiri gagah, tanpa takut bermandikan cahaya matahari yang kian mencolok.[]

*Penulis merupakan pemimpin redaksi DETaK Unsyiah periode 2013-2014 dan delegasi Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) Bali Journalist Week 2013 yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiwa (LPM) Akademika, Universitas Udayana Bali, 16- 20 September 2013.

Comments

comments