Beranda Feature Bersafari ke Piasan Seni Aceh, Sebuah Cerita Tentang Pameran Seni

Bersafari ke Piasan Seni Aceh, Sebuah Cerita Tentang Pameran Seni

BERBAGI
Pengunjung memasuki tempat Piasan Seni Banda Aceh (Fajar/DETaK)

Nabila Azzahra [AM] | DETaK

Lukisan dalam sebuah stan di Piasan Seni Aceh (Fajar/DETaK)
Lukisan dalam sebuah stan di Piasan Seni Aceh (Fajar/DETaK)

Darussalam – Hari itu 15 September 2015. Cuaca yang agak mendung pada sore itu menyambut kedatang kami  di Taman Sari. Pertama kali melangkahkan kaki ke taman tersebut, kami disambut oleh sebuah pigura dengan tulisan “Selamat Datang di Piasan Seni Aceh.”

Kami pun melangkahkan kaki lebih jauh, disana  terlihat stan-stan  berjejer rapi dan memajang berbagai produk seni yang menonjolkan keunikan masing-masing. Ditambah lagi dengan tatanan dua panggung yang diapit oleh stan-stan tersebut sungguh apik. Euforia pengunjung yang ramai walaupun jam sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB dan hari hampir magrib senja terlihat malu-malu mulai meredup.

Stan Agam Inong Banda Aceh adalah stan yang pertama kali terlihat. Di sana kami disambut oleh Agam dan Inong  yang dengan senyum ramahnya. Saat kami sedang asyik melihat-lihat, salah seorang Inong Banda Aceh yang bernama Mia datang dan menjelaskan mengenai stan tersebut.

“Agam Inoeng ini adalah duta wisata yang mempromosikan wisata daerah,” ucapnya sembari tersenyum ramah.

Dari satu stan ke stan yang lain kami menemukan berbagai keunikan dan daya tarik dari masing-masing yang membuat kami selalu saja ingin berhenti dan melihat. Adalah komunitas rapper yang disana kami diperlihatkan berbagai macam prestasi-prestasi mereka yang tampak dari banyaknya piagam dan piala yang mereka pampangkan. Mereka juga memperlihatkan foto-foto keanggotaan mereka yang tertata apik didalam album besar berwarna hitam keabu-abuan.

Penggiat Sanggar Pantomim Aceh (Sang PAH) berpose di depan kamera (Fajar/DETaK)
Penggiat Sanggar Pantomim Aceh (Sang PAH) berpose di depan kamera (Fajar/DETaK)

Kami juga menemukan sebuah stan yang tak kalah unik pula, yaitu sebuah stan pantomim yang menamakan dirinya Sanggar Pantomin Aceh (Sang Pah). Stan tersebut terlihat dipenuhi oleh pengunjung yang sangat berantusias berfoto bersama seorang tokoh pantonim yang menampilkan keahliannya yang sedang bergaya seperti Charlie Chaplin.

Dari berbagai stan yang kami kunjungi terdapat berbagai perbedaan yang tergambar pada masing-masing stan saat itu. Seperti stan sekolah-sekolah yang berjejer dimana sedang dipenuhi para remaja-remaja yang sedang bertandang untuk sekedar melihat, bercengkrama dengan teman sejawat mereka, dan ada pula yang sedang berfoto ria. Sangat kontras tampak perbedaan dari stan diseberang mereka seperti Stan Forum Lingkar Pena atau yang lebih dikenal dengan singkatan FLP, terlihat lebih tenang saat kami berkunjung.

Di hadapan stan mereka kami disambut oleh dua buah maskot animasi yang berdiri berdampingan. Di antara dua maskot itu,terdapat sebuah kotak kecil yang dipenuhi kertas-kertas. Setelah dijelaskan, ternyata salah satu maskot wanita sedang melakukan sayembara untuk diberikan nama kepadanya. Sedangkan si laki-laki telah terpilih sebuah nama dari tahun sebelumnya yang berakhir dengan pilihan nama dengan sapaan Filip. Selanjutnya disebelah sudut stan FLP terlihat sebuah pohon yang berdiri tegak dengan

Ketua FLP Banda Aceh menunjukan hasil karya anggotanya di depan stan FLP (Fajar/DETaK)
Ketua FLP Banda Aceh menunjukan hasil karya anggotanya di depan stan FLP (Fajar/DETaK)

dipenuhi kertas-kertas tulisan yang tergantung.

Setelah beberapa saat kami mengobrol dengan ketua FLP Banda Aceh tersebut ternyata pohon itu bernama pohon keberuntungan. Dimana setiap pengunjung diperbolehkan menulis berbagai harapan atau keinginan mereka.

“Itu adalah pohon yang memuat beberapa permohonan para pengunjung,” tutur ketua FLP Banda Aceh Aula Andika.

Di stan tersebut juga terpajang berbagai buku-buku karya-karya terbitan FLP. Sembari kami melihat-lihat,Ketua FLP juga menjelaskan bahwa Stan mereka pada Piasan Seni Aceh saat itu merupakan satu-satunya stan sastra yang ada.

“Tak seperti tahun sebelumnya, tahun ini sepertinya FLP jadi satu-satunya stan sastra di piasan seni ini,” lanjut Aula.

Tak jauh dari sana terlihat stan seni melukis yang memajang berbagai hasil lukisan-lukisan. Ketika kami memasuki stan seni melukis tersebut akan terlihat sebuah lukisan besar yang menggambarkan kapal-kapal perang yang sedang bertempur siap dengan mengeluarkan peluru-peluru.

Di depan stan tersebut terlihat seorang pelukis tua berpakaian biru yang sedang duduk santai sembari mengepulkan asap putih ke udara. Sangat menikmati suasana hari menjelang senja itu. Sambil mendengarkan alunan nada musik dari penampilan band yang sedang memainkan musik beraliran rock ia mempersilakan kami masuk untuk melihat karya yang ada di stannya.

Kunjungan kami ke Piasan Seni Aceh tersebut diakhiri dengan saat kami melewati sebuah stan hand craft yang terletak paling ujung sedang dipenuhi kaum perempuan yang begitu terlihat antusias merajut dengan benang-benang yang tampak berwarna-warni. Sungguh sebuah ajang seni yang sangat kreatif.[]

Editor: M. Fajarli Iqbal

Comments

comments