Beranda Feature Menenun, Menjaga dan Memproduksi Budaya

Menenun, Menjaga dan Memproduksi Budaya

BERBAGI
Jasmany dan suaminya saat diwawancarai DETaK Travel di krumah kediamannya daerah Lambaro Angan, Aceh Besar. (Riska Iwantoni/DETaK)

Radhia Humaira | DETaK

Kemajemukan masyarakat Indonesia menciptakan hasil karya yang beraneka cipta. Jika pulau Jawa populer karena batiknya, maka Aceh di ujung pulau Sumatera juga mampu menyimpan keindahan budaya dibalik indahnya tenun di pulau perca. Masing-masing karya menggambarkan ciri khas asalnya. Misalnya, kebudayaan yang hampir sulit terbaharukan, “Songket Aceh”, yang merupakan kain yang ditenun dan dihias dengan benang berwarna emas dan perak.

Jejak detak-unsyiah.com pada 27 February 2016 masih menyisakan kenangan akan kilau bersatunya benang polyester dengan ragam corak, hingga menjelma potongan kain pada rangkaian kayu yang ditarik maju mundur tersebut. Teriknya mentari siang bukanlah rintangan terbesar crew kami saat mengunjungi warisan budaya yang terletak di salah satu gang kecil Kabupaten Aceh Besar ini. Melainkan kekhawatiran akan pudarnya rasa cinta generasi bangsa terhadap kebudayaan yang menjadi ciri khas suatu daerah.

Spesifiknya, Songket Aceh milik ibu Jasmani dan suaminya Farliansyah yang terletak di Jalan Lambaro Angan, Desa Mireuk Taman, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar. Waktu tempuh perjalanan ini tidak akan menyita waktu yang lama. Cukup sekitar 10 hingga 15 menit saja, sudah cukup membuktikan kamu sebagai warga negara yang cinta dan tidak apatis terhadap budayanya. Jangan Asyik Impor!

Songket merupakan suatu benda yang dibuat manual, yaitu melalui alat tenun yang diciptakan manual pula. Dalam bahasa Aceh sering disebut pok teupeun. Proses kerajinan tangan tersebut membutuhkan ketelatenan dan konsentrasi tingkat tinggi, kesabaran dan juga penuh rasa cinta. (Tonton liputan DETaK Travel di https://www.youtube.com/watch?v=zma93DMnRQw)

Inilah yang dilakukan oleh Jasmani dalam menghidupkan kreasinya. Setiap hari Ia akrab dengan alat tenun manual yang telah dibuatnya sendiri, kecuali bagian sisir dan garap yang memang sudah ada secara khusus. kebersamaannya dengan alat tenun tidak hanya satu waktu, dari pagi hingga malam Ia kerap menyelesaikan tenunannya bersama sang suami.

Andaikan tenun nyoe jeut ipeugah haba, piyoh dilee hay..
(Andaikan tenun dapat bicara, berhenti lah sebentar-red),” ucapnya kental dengan logat Aceh Besar.

Dirumah kediamannya, terdapat tiga alat tenun. Dua yang sekarang digunakan bersama suaminya, sementara yang lain terlihat tak ada yang menggunakan. Ia mengaku sempat mempunyai pekerja, namun tidak ada yang bertahan lama.

“Sebab itulah, kunci menenun ini butuh kesabaran yang ekstra.” Katanya, memberi penjelasan sembari melanjutkan tenunannya.

Farlliansyah, saat mengerjakan tenunan songket motif Aceh. (Riska Iwantoni/DETaK)
Farlliansyah, saat mengerjakan tenunan songket motif Aceh. (Riska Iwantoni/DETaK)

Pesanan songket yang telah didapatkan Jasmani berasal dari berbagai daerah, diantaranya Medan, Lombok, Bandung, Jakarta, dan juga Bangka Belitung. Dari Aceh sendiri Ia juga banyak menerima pesanan. Hasil karya yang elegan ini juga menarik beberapa orang asing untuk turut memesan produknya. Ia menjelaskan perbedaan tenun Aceh dan lainnya terletak pada motif/corak dan nama-namanya yang khas, misalnya pucok reubong, corak lugi juga polosan yang diberi motif.

Semenjak tahun 1990-an hingga 2016 sekarang, motivasinya menenun bukan hanya melestarikan budaya. Namun untuk mencukupi kebutuhan keluarga, menenun juga merupakan sumber mata pencahariannya. Di balik itu, menenun adalah hobinya yang dilestarikan. Jasmani bisa menyelesaikan tenunannya sekitar 10 sampai 15 hari.[]

Editor: Riska Iwantoni

Comments

comments