Beranda Budaya Seciduk Ingat Tentang Cadik

Seciduk Ingat Tentang Cadik

BERBAGI
Ilustrasi

Cerpen | DETaK

Oleh: Mutiara Qalbi

“Kau curang, tidak bisa cadik ini dinaki 3 orang,” teriak Lintang.

Cadik itu kini  oleng, hoyong tidak jelas arahnya. Mulai tak sanggup menahan tiga bocah berkelahi di atasnya. Tanpa badai dan hujan, bahkan mendung pun tak melintas, namun cadik itu kini terlihat seperti diaduk tangan jahil yang berusaha menjawilnya.  Seperti digoda gelombang pasang. Cadik itu mulai retak kiri kanan, rangkanya yang tua dan terbuat dari kayu sisa, membuat pertahanannya lemah. Salah seorang bocah tak sengaja mematahkan dayungnya, hilang keseimbangan terinjak sana sini dan putus pasaknya, hingga…

“Byarrr”

Bujang terbangun, tetesan hujan dari atap rumbia yang bolong mengenai mata sayunya.

“Ah, harusnya dari kemarin aku tukar rumbia itu,” batin Bujang.

Bujang meracik rokok lintingnya, potongan cengkeh dan kemenyan yang halus bertemu dengan pemantik merupakan pertemuan pertama hari itu. Tatapan kosong menerawang pada deretan pinang yang berjejer, mirip formasi berbaris murid SD setiap senin. Tatapan kosong itu kini berganti tamparan di kaki, tangan, sesekali juga mendarat di pipinya. Nyamuk-nyamuk tak menyia-nyiakan kekosongan Bujang. Jangkrik- jangkrik dalam botol yang persis di sampingnya menjadi alunan pagi yang tak beraturan.

            “Kau tidak jadi mengail belut dengan Amir”?

Suara mak Inah mengejutkan Bujang yang langsung memadamkan linting di tangannya.

            “Iya Mak, selepas subuh,” jawabnya.

Jadilah sepagi buta, Bujang berangkat ke pondok tepi sawah meski alam sadarnya belum sempurna berdamai dengan kantuk. Terpaksa menuruti permintaan Amir. Mengail belut di tengah sawah di pagi buta? Jika bukan karena sepotong kisah itu, tidak akan dia rela menunggu di pondok ini. Pondok yang bertahun lalu adalah sarang terbesar mereka, tempat pelarian paling strategis dari kejaran kepala sekolah atau bisa jadi hotel dadakan saat dimarahi mak Inah seharian. Bujang keliru, pertemuan pagi ini tak hanya sekedar mengail belut di petak sawah.

            “Hoi, boy . Bangun kau!”

Suara Amir menghentikan sesi kenangan itu. Bujang yang masih terkejut bercampur haru masih membutuhkan waktu untuk menyambungkan semua kejadian, memaksakan senyumnya demi menyambut sahabat lama.

“Untuk apa kau kemari? Katakan sebenarnya,” Kata Bujang datar.

“Mengail belut,” Amir menjawab sekenanya.

“Bohong! Kalau soal belut kau bisa dapat dari pengepul atau di pasar setiap minggunya. Tidak perlu menunggu 8 tahun setelah kau pergi dan pindah ke kota yang hanya berjarak 45 km dari sini. Kenapa pagi ini? kenapa hari ini?” Pertanyaan itu mengalir begitu saja dari Bujang.

“Terlalu banyak kau bertanya, ingat apa akibat dari keterlaluan kita yang terlalu banyak? Sudahlah kalau kau tak ingin menemani aku, biar aku  yang menyusuri semuanya sendiri”.

Amir berjalan menuruni pematang diikuti langkah Bujang yang menyeret sisa–sisa kantuk, tanpa sengaja menyeret semua kejadian bertahun silam. Kepalanya masih dipenuhi segala penyesalan dan kebutuan akan penjelasan.

“Amir berhutang penjelasan,” batin Bujang.

Sepagi itu tidak banyak belut yang berhasil mereka dapat, memang bukan itu tujuan utama Amir mengajak Bujang. Mengail belut hanyalah pembukaan dari penyusuran jalan lama yang harus dikunjungi atau bisa jadi diperbaiki. Selepas sawah kunjungan berikutnya adalah danau, butuh 30 menit berjalan kaki melewati hutan-hutan kecil yang begitu damai ditimpali suara jangkrik yang masih bising.

“Ah, Lintang senang sekali menangkap jangkrik,” Amir memecah keheningan.

Lintang. Nama yang sedari 8 tahun lalu sangat berat diucapkan Bujang, bahkan sekedar mengingatnya saja sangat menyakitkan. Hanya dengan memandang jangrik yang setia dalam botol di biliknya bisa sedikit meredam rasa bersalah Bujang, dan kini begitu santai Amir mengoyak masa kelam itu. Mengungkitnya sama saja membalik semua lembar yang susah payah ia kubur.

            “Kau dan Lintang selalu memaksaku bangun pagi subuh demi misi kalian mencari belut, berburu jangkrik dengan berbohong pada mak Inah, ingat hari ketika kita naik cadik?” tanya Amir.

            “iya, dan kenapa kau mau mengulangnya?” Bujang menjawab datar.

            “Kenangan,” jawab Amir.

            “Kenangan buruk, bahwa aku penyebab kematian Lintang?” Bujang berteriak.

***

Delapan tahun silam. Subuh itu Bujang, Lintang dan Amir kecil melakukan ritual mingguan mereka. Bangun sebelum ayam berkokok, berbohong pada mak Inah dengan alasan shalat ke masjid padahal mencuri waktu berkumpul di pondok pinggir sawah. Melanjutkan rencana mengail belut, berlomba mengumpulkan belut terbanyak, sayangnya tak seekorpun bisa mereka dapat.

            Lintang terlalu jatuh cinta dengan jangkrik, selalu memaksa kedua sahabatnya mencari jangkrik. Menjadikan mereka pasukan pencari jangkrik termuda di desa, dengan iming-iming Lintang akan meminjamkan cadik pamannya agar mereka bisa mengelilingi danau. Di desa itu, anak-anak dilarang naik cadik apalagi menjelajah danau, terlalu berbahaya. Pencarian jangkrik berakhir sebelum pukul 07:00, langkah mereka mulai menuju tepian danau. Di pinggir danau telah tertambat cadik kecil, Lintang menepati janjinya dengan sedikit bumbu-bumbu bohong agar diizinkan pamannya.

            “Tapi cadik ini hanya bisa dinaiki dua orang,“ ujar Lintang.

            “Ya sudah kita hompimpa saja, yang kalah tak boleh naik ya?” jawab Amir.

Setelah hompimpa dan perseteruan sengit dan panjang ala bocah, maka Bujang lah yang ditetapkan sebagai anggota yang tidak boleh menaiki cadik. Dengan muka geram ia melepas kedua sahabatnya mendayung cadik ke tengah danau. Bujang tidak terima, ia juga ingin naik cadik itu, toh karena konspirasinya juga Amir mau menemani ekspedisi pencarian jangkring Lintang. Kenpa dia tidak dapat kesempatan? Bujang tidak peduli bagaimanapun caranya ia harus naik cadik itu. Terhasut hasratnya dan rasa ingin tau yang besar Bujang pun melompat ke dalam danau, berenang menuju cadik yang mulai mengarah ke tengah. Tak lama, Bujang berhasil meraih cadik dan berusaha naik, menyebabkan cadik bergoyang tak karuan menerima serangan Bujang.

            “Kau curang, tidak bisa cadik ini dinaiki tiga orang,” teriak Lintang panik.

Bujang tidak menghiraukan, ia memaksa naik hingga cadik itu hilang keseimbangan, air mulai masuk dan Amir yang berusaha menahan tak sengaja mematahkan dayung. Terbalik, cadik itu menenggelamkan ketiganya, naas Lintang yang tak pandai berenang tenggelam jauh ke dasar. Kepanikan mulai membuncahi Amir dan Bujang, keduanya mencari Lintang sebisanya. Beruntung Bujang akhirnya menarik tubuh Lintang ke permukaan dan menempatkannya di atas patahan cadik. Tubuh Lintang dingin, suasana danau mulai mencekam. Amir berteriak sejadinya mencari pertolongan sementara Bujang, tatapannya mulai kosong semenjak hari itu.

***

            “Tidak ada yang bisa menerka takdir, Bujang. Bisa saja hari itu kau atau aku yang tenggelam. Tapi tuhan memilih Lintang. Tidak seorangpun tau rencana apa yang telah disiapkan, Maafkanlah dirimu Bujang,” suara Amir tercekat.

            “Kau? Bukankakah kau menyalahkan aku hari itu? Kau tidak lagi ingin melihatku, bahkan kau pindah ke kota, kau berhutang penjelasan padaku Amir,” ujar Bujang.

            “Aku tak menyalahkanmu Bujang, semua adalah kesalahan kita. Kita tau itu berbahaya tapi tetap melakukannya. Aku pindah karna aku belum mampu merelakan kenangan itu. Pondok, sawah, belut, jangkrik. Semua begitu nyata, hingga ayahku memutuskan pindah agar aku tak lagi cemas setiap mengingatnya. Benar saja, waktu mampu menyembuhkannya Bujang, Meski perlahan kau juga harus ikhlas. Ikhlas itu begini boy, kau rawat ulat kau jaga kepompongnya. Meski kau tau saat ia menjadi kupu-kupu ia akan terbang menjauh,” ucap Amir.

Riak air danau itu mengenai sudut lengan Bujang, perlahan ia mendayung hingga berhenti tepat di tengah. Lenguh burung burung hutan menggema memenuhi langit-langit pagi, Jangkrik-jangkrik tak lagi berisik. Bujang belum mampu melenyapkan semua kejadian itu, namun pemahaman Amir sedikit banyak telah membantu merengkuh sakit yang selama ini ia rawat. Penjelasan ikhlas yang ia cari, justru datang bersama kenangan menyakitkan yang dibawa sahabat kecilnya Amir. Diam, hanya riak air yang menimpali pertemuan mereka.

 “Sampan ini, terlalu besar untuk kita berdua.”

Senyum simpul itu kini mengembang. Tawa. Kenangan pahit menyatukan mereka bahkan di tempat terkejam di dalam hidupnya. []

Penulis Merupakan Mahasiswa Teknik Geofisika Leting 2014 Universitas Syiah Kuala, yang juga aktif dalam Paguyuban Karya Salemba Empat (KSE Unsyiah)                                                                                                                                                                                                                                                                                                    

Comments

comments