Beranda Budaya Sang Penjahit

Sang Penjahit

BERBAGI

Oleh Amek Barli

penjahit
Ilustrasi Penjahit (Foto: Istimewa)

Lelaki itu sudah terkepung. Di sekeliling gubuk kumuh, para tentara sudah bersiap melepaskan pelor, memberondong tempat ia bersembunyi. Jika itu terjadi, besok kita akan membaca namanya di koran-koran kota sebagai buronan yang nahas. Kawom, namanya. Dia dikenal sebagai penjahit ternama di kampung Brojol. Sepanjang hidup, ia menjalani hari-hari dalam kesendirian danmiskin. Hanya sebuah mesin jahit warisan ayahnya sebagai barang berharga yang ia miliki dan sebuah kios sempit.

Para warga kampung Brojol sangat percaya pada keahlian Kawom menjahit pakaian. Hampir tak ada penjahit seteliti dia. Hasil jahitannya tidak pernah mengecewakan. Jika musim lebaran, awal sekolah, dan ketika orang-orang kantoran naik gaji, dia akan sangat sibuk. Namun, di antara semua pelanggan, dia mengkhususkan harga kepada para tentara. Sebab hanya para tentara itu yang kerap mengorderkan seragam mereka dalam jumlah yang banyak untuk dijahitkan.

***

Beberapa bulan lalu, pemerintah ternyata menepati janjinya untuk memberikan anggaran hidup bulanan bagi setiap kepala keluarga. Kebijakan pemerintah mulai berdampak negatif terhadap Kawom. Pekerjaan sebagai penjahit kecil-kecilan seolah tak dibutuhkan lagi. Warga lebih memilih pergi ke kota untuk menjahit bajun. Sebab gengsi kerap menyelimuti warga. Hal itu membuatnya sangat kesal.

Kampung Brojol adalah salah satu kampung yang pernah dilanda konflik bersenjata terparah. Oleh sebab itu, populasi perempuan lebih besar dibandingkan laki-laki. Laki-laki dari kota mulai berdatangan mencari istri ke sana. Setelah konflik usai, para perempuan sangat mudah untuk dinikahi. Meskipun, oleh lelaki buruk rupa sekalipun. Pikirnya, agar tidak menjadi perawan tua dan hidup berkecukupan. Parahnya lagi, menjadi selir seorang petani pun dia rela. Melihat peristiwa itu semakin menjadi-jadi saja kekesalan Kawom.

Puncak kekesalan Kawom iterjadi saat  tak seorang wanita kampung pun yang rela ia nikahi. Sedang kebijakan pemerintah itu hanya berlaku bagi yang sudah menikah saja, Kawom galau. Sementara semua teman sebayanya sudah memiliki Kartu Keluarga (KK) masing-masing, bahkan ada yang sampai memiliki tiga atau pun lebih.

“Kebijakan ini membuat penduduk malas. Kecuali aku. Mau apa, aku hanya seorang bujang,” ucapnya kesal pada Karjox, temannya yang sudah menjadi tentara dan sudah memiliki dua istri di kampung itu. Apa aku bertahan menjadi seorang penjahit, atau harus bekerja ke kota untuk sementara waktu?”

“Jodoh itu tidak dilihat dari pekerjaan, Kawom. Contohnya si Nawir, dia cuma seorang muazin cadangan dengan wajah biasa-biasa saja, tapi bisa menikahi Halimah guru Matematika yang cantik itu. Kamuharus bersabar,” bujuk Karjox.

“Iya, dia cuma punya satu istri. Kamu sudah dua. Parahnya lagi, si Nazar pedagang ayam yang di kota juga sudah punya dua istri, pulang ke kampung ini malah menikahi dua perempuan lagi,” geram Kawom dengan wajahmenyeringai.“ Serakah betul dia!”

“Jodoh tidak akan kemana, Kawom. Sabarlah!”

Kawom geram pada Karjox karna perkataannya seolah menggurui.“ Macam aku gak laku saja. Seandainya sampai lima tahun lagi aku tidak beristri, aku tidak akan merasakan uang pemerintah, tentunya kalian juga tak akan merasakan uang itu” Celoteh hatinya.

Angin berdebu mengusik wajahnya. Membangunkan dia dalam dunia kekesalannya. Karjox yang dari tadi disampingnya, hanya bengong melihat ekspresi Kawom yang tak menentu.

***

Kawom memilih bekerja ke kota untuk mengubah kehidupannya. Berharap kelak di kota ia dapat hidup lebihbaik. Dapat memiliki banyak istri, dan hidup senang dengan uang dua juta per KK.

Kenyataan pahit yang diterimanya, sudah lima tahun merantau ke kota tak juga ia menikah. Kalau begini, aku akan terus-terusan membujang. Mau sampai kapan begini. Hidup miskin,sunyi lagi.

“Jodoh tidak akan kemana,” persetan dengan jodoh. Sudah bosan aku mendengar kalimat itu. Kehidupan warga sangat glamor, aku juga harus seperti itu. Tentunya aku akan bahagia. Namun, hidupku saat ini,sangat jauh dari glamor. Itu yang membuatku sangat palak dan kesal.

***

Peristiwa kejahatan kerap dirasakan dalam perkotaan, mulai dari perampokan hingga pembunuhan. Melihatperistiwaitu, timbul ide jahat Kawom. Berteman dengan komplotan penjahat dan ikut membantunya. Kawom memiliki maksud lain. Setelah beberapa bulan ikut komplotan itu, dia membuat onar di kampung Brojol. Perlahan namun pasti ia mulai bergerak. Mula-mula ia mencopet dan berhasil. Lalu, dengan mudahnya merampok warga yang begitu glamor juga berhasil. Warga kampung mulai resah akibat tindak kejahatan Kawom tersebut.

Kemudian, malam menjelang subuh, terjadi kebakaran di rumah Nazar seorang pedagang ayam yang kaya rayaitu. Warga panik melihat kobaran si jago merah begitu lahap menelan rumah si pedagang ayam. Kini hanyalah tinggal puing-puing bangunan yang berserakan, hanya kesedihan yang terlihat dari wajah Nazar beserta keempat istrinya.

Setelah peristiwa itu, penjagaan ketat kerap dilakukan para tentara setiap malam. Namun, suasana kampung aman-aman saja, sebab Kawom menghentikan sejenak kejahatannya. Dua bulan berselang peristiwa serupakembali terjadi. Kini di rumah Karjox. Membuat warga kampung brojol semakin resah dan was-was. Sungguh hebat Kawom dapat melakukan itu pada sahabat karibnya. Entahapa yang sedang dipikirkannya.

Para tentara tidak menghentikan pencarian terhadap penjahat itu. Hingga terdengar kabar bahwa Kawom sudah kembali ke kampung Brojol. Sebelumnya tidak seorang pun tahu jika ia sudah berpijak kembali di Brojol.

Sebab curiga terhadap Kawom. Para tentara terus memantau gubuk kumuh miliknya. Hingga terungkap.

Dan lelaki itu sudah terkepung. Di sekeliling gubuk kumuh, para tentara sudah bersiap melepaskan pelor, memberondong tempat ia bersembunyi. Belasan senjata mengelilingi kepalanya. Hanya menunggu pelatuk ditarik.

“Treeek…” pelatuk ditarik.

“Tunggu dulu…” kata lelaki itu.

“Apa lagi yang ingin kau katakan?” tandas tentara.

Aku sudah banyak melihat kenyataan pilu di kampung ini. Aku tidak lagi menemukan hidup kekeluargaan serta kehidupan sosial yangsaling menghargai di kampung ini. Hidup serba berkecukupan dan mewah sudah membunuh pikiran jernih mereka dan hanya melahirkan pikiran picik. Tak penting kehidupan sosial hanya mementingkan kehidupan masing-masing.

Aku sangat merasa dirugikan dari kebijakan yang dicetuskan lima tahun silam. Hidupku yang awalnya sejahtera dan tenang-tenang saja, kini malah menjadi suram tak menentu. Aku semakin terjerembab dalam kemiskinan dan tenggelam dalamkesunyian. Tidak ada lagi yang menghargai dan memandangku di sini.Tidak ada keluarga, tidak ada sahabat, apalagi teman, semua sibuk dengan kesenangan duniawi. Kehidupan sosial tidak lagi diperhatikan. Aku bengis; palak. Itulah sebabnya aku seperti ini. Aku ingin menyadarkan warga, bahwa tak selamanya uang dan kesenangan dunia itu membuat kita bahagia. Hidup dalam kekeluargaan dan sosial yang tinggi akan membuat kampung terasa aman dan tentram. Aku yakin itu. Tapi, tidak ada yang mempedulikanku.

“Diam KAU”.

“Doooor” Karjox melepaskan tembakan.[]

Editor: M Fajarli Iqbal

Penulis bernama lengkap Rakhmad Hidayat, dengan nama pena Amek Barli, aktif di Komunitas Jeuneurob dan alumni SMAN 1 Kota Langsa, sekarang terdaftar sebagai mahasiswa Pendididkan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unsyiah.

Comments

comments