Beranda Budaya Rembulan Malam Ini

Rembulan Malam Ini

BERBAGI
Ilustrasi (Sumber: Google)

Oleh Rikamalia

Ilustrasi (Sumber: Google)
Ilustrasi (Sumber: Google)

Rembulan menyapaku malam ini. Seperti biasanya, ia tersenyum tulus kepadaku. Aku bersandar pada sebuah kursi yang ada di taman. Ya, tempat dimana aku membuang kesialan hidupku selama ini. Hanya bulan yang mampu memberikan ku semangat untuk hidup. Namun semangat itu seperti baterai yang harus di charge agar terisi kembali. Mata ku semakin terkatup. Aku langsung terjaga ketika kepalaku mengenai salah satu besi penyangga kursi taman. Ku lirik sekilas ke lengan ku, jam 22.00 Wib. ”Ahh”, aku mengeluh. Segera beranjak menuju rumah. Sepi. Aku terbiasa sendiri. Sunyi, itulah hidup ku. sejak lahir, aku dibesarkan dalam kesendirian. Aku hanya hidup bersama seorang “ ibu angkat ”. Sejak kecil, aku tidak pernah mengenal orang tua ku, dan aku menganggap “ibu angkat” ku adalah ibuku sendiri. Ia tampak semakin tua.

Masih setengah perjalanan menuju rumah, hujan deras mengguyur dan membasahi seluruh tubuhku. Aku mencari perlindungan. Mengeluh dalam hati. Berkata sesuka. Hanya sekedar. Akhirnya, aku memutuskan untuk terus berjalan tanpa memperdulikan hujan yang semakin bersemangat mengguyur tubuhku. Tampak ibu sudah menungguku dengan cemas di depan pintu rumah. Wajahnya semakin lama semakin keriput. Ia juga semakin sering sakit-sakitan. Ibu harus membongkar semua rahasia ini. Pikirku.

“Dari mana kamu Ain? Ibu dari tadi cemas dengan mu.” Kata-katanya menusuk ulu hatiku yang paling dalam. Aku hanya diam, melirik sekilas, dan masuk ke kamar tidurku. Sudah sebulan aku tidak pernah lagi menyapanya. Tidak pernah mau memperdulikannya lagi. Aku begitu marah dengannya karena ia tak pernah mengatakan siapa orang tuaku sebenarnya. Dia seperti biasa, hanya diam, diam dan diam. Aku muak. Bahkan untuk mengingat pertanyaanku setiap waktu dan sabar menunggu jawaban darinya aku tak sanggup lagi. Emosi jiwaku mulai meledak. Aku benar-benar tidak memperdulikannya lagi.

Diam-diam, malam ini saat Ibu sedang menyiapkkan makan malam, aku masuk ke kamar Ibu tanpa sepengetahuan nya. Mencari dimana ibu menyimpan petunjuk tentang kedua orang tua ku. Mencari kebenaran yang selama ini tersimpan rapat dalam benak Ibu. Kesabaran ku sudah berujung di umur ku yang ke 17. Aku sudah dewasa, pikirku. Aku hanya ingin tahu siapa ibuku, siapa ayahku. Itu saja sudah cukup.

Tiba-tiba tanganku meraba sebuah tumpukan kertas di atas lemari dengan ketebalan debu di atas rata-rata. Aku meraihnya. Membawanya ke kamarku. Aku mengunci pintu kamar, membersihkan tumpukan kertas itu dari debu-debu yang membuatku alergi. Tak apa. Semangat ku mulai menyala. “Mungkin ini titik terangnya” berkata pada diriku sendiri. Tangan ku terhenti, terkejut. Aku mulai bisa membaca tulisan yang ada di kertas itu. Ya, itu adalah koran. Aku mengeja tak percaya. Aku mulai membaca koran itu. Air mata ku mulai mengalir. Aku mengambil kertas yang lain. Kali ini adalah tabloid. Sebuah berita mengatakan bahwa Ayah dan Ibuku adalah artis ibukota yang menikah tanpa restu dari kedua belah pihak. Berita di salah satu koran mengatakan bahwa ketika ulang tahun ku yang pertama, Ayah dan Ibuku berniat untuk pergi ke rumah kedua orang tua Ibu. Namun di tengah perjalanan, sebuah truk menabrak mobil yang kami tumpangi. Orang yang satu-satunya selamat dalam kecelakaan itu adalah aku. Sedangkan Ayah, Ibu, dan supir truk itu juga meninggal di tempat. Tak ada orang yang mau mengadopsi ku. Kakek dan Nenek tak ada yang perduli kepada ku. Mereka malu mengungkap bahwa aku adalah cucu mereka. Akhirnya, istri supir truk yang meninggal dalam kecelakaan itu mengadopsiku sebagai anaknya.

Aku melirik kertas yang lain. “Sepertinya ini dari kakek !” berseru pada diri sendiri. Aku memahami isi surat itu. Selama ini, Ibu menerima kiriman surat dan uang dari kakek ku yang sangat merindukan ku. ia sangat menyesal karena ia tak pernah setuju ibu menikah dengan ayahku. Sedangkan nenek, sudah meninggal tidak lama berselang dengan kematian ibu dikarenakan syok berat. Kakek ingin sekali bertemu denganku. Tapi ia takut aku membencinya. Ia juga mengatakan kepada Ibu untuk merahasiakan ini semua. Ibu tidak bersalah, mungkin ia juga benar-benar terpukul melihat keadaan ku. Ia tidak berani mengatakan bahwa Ayah dan Ibuku telah meninggalkanku sejak kecil. Ia selalu berkata bahwa Ayah dan Ibuku sibuk bekerja.

Air mataku tak bisa kutahan lagi. Aku meringkuh. Menggigil. Aku tak percaya dengan semua ini. Aku kembali melihat surat dan lembaran-lembaran koran itu. Tuhan, itu sudah berlalu 10 tahun yang lalu. Bahkan lebih lama lagi. Tiba-tiba, pandanganku tertuju pada satu amplop terakhir. Berdasarkan tanggal, surat ini adalah surat terakhir yang ibu terima. Surat itu datang sekitar 6 bulan yang lalu. Aku mulai membacanya. Air mataku semakin deras. Harapan dan impianku hilang. Kakek telah meninggal. Pesan terakhirnya tetap sama pada surat-surat yang kubaca sebelumnya, jaga dan rawat Ain dengan tulus. Itu saja. Singkat. Aku terdiam dalam tangis. Luka ku, luka mu Ibu.

Aku bangkit, menghampiri Ibu yang baru saja selesai menyiapkan makan malam. Ibu terkejut melihat mataku yang sembab dan tumpukan kertas yang ku bawa. “Kenapa kau tak pernah mengatakan ini padaku?” aku mulai bertanya pelan. “kenapa?” aku membentak Ibu. Emosi. Ibu menangis. Ia bergetar. Terpukul. Lagi-lagi ia hanya diam. Menangis. Aku juga menangis. Memeluk Ibu. Aku berbisik padanya, “terima kasih sudah menyimpan rahasia ini dengan baik bu, karena jika aku mengetahuinya, mungkin aku akan meninggalkanmu dalam kesendirian.” Aku mulai mengerti mengapa ibu melakukan semua ini padaku. Aku mengerti. Aku menyayanginya. Tulus. Dan jasanya, takkan bisa ku balas sampai tetes darah terakhir, walau dia bukan ibu kandungku.

Rembulan menatapku dengan senyuman. Lembut. Sepertinya ia tahu isi hatiku. Malam ini, aku seperti terlahir kembali. Dalam dekap dan tangis, aku berkata lirih pada ibu, “Aku akan bertahan untukmu, Ibu.”.[]

Penulis adalah Rikamalia, Mahasiswi semester I di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unsyiah.

Comments

comments