Beranda Cerpen Kasih Ibu

Kasih Ibu

BERBAGI
Ist

Alda Mawaddah

Hembusan angin pantai meniup jilbabku. Ombak yang bergulung akhirnya berhasil menyentuh kaki. Seketika cerita lama itu muncul di benakku.

Minyak goreng yang Ibuku panaskan bertumpahan seiring dengan guncangan kuat dari bawah tanah. Aku menatapnya yang tengah sempoyongan mengatur wajan. Aku pun demikian, merasa ayunan yang kumainkan berayun semakin kencang.

“Ibu!” panggilku sembari merentangkan kedua tanganku ke depan. Aku ketakutan, begitu juga Ibu, wajah cantiknya terlihat cemas.

Tak lama, terdengar teriakan dari luar. Aura ketakutan menjalar dari suara itu. Barang-barang mulai berjatuhan, seakan rumah ini akan roboh sebentar lagi.

Ibu menggendongku dengan sebelah tangannya, sementara tangannya yang satunya sedang menggenggam erat lengan abangku. Kakinya berlari di antara semua orang yang juga berlarian berusaha menyelamatkan diri mempertahankan nyawa yang hendak direnggut pergi.

Dalam gendongannya, kulihat langit mendung dengan gelombang hitam yang menakutkan. Terdengar suara jeritan siksa yang menggema. Bahkan pepohonan kayu yang selama ini menjadi tempat berteduh, kini menjadi tempat yang paling berbayaha untuk disinggahi.

Dari kejauhan, sebuah tangga di samping toko emas penuh sesak dinaiki orang-orang yang hendak menyelamatkan diri. Air mulai naik seiring dengan kaki Ibu yang ada di bawah kaki abangku. Aku berteriak saat air itu mengenai kakiku. Namun, tanganku yang kecil tak erat lagi memegang bahu ibuku yang terlihat begitu lelah.

“Ibuuuuu!” Panggilku saat aku benar-benar terlepas dari gendongannya. Dalam air yang keruh dapat kulihat Ibuku menangis. Keadaannya terlihat begitu kacau, terlihat ia berbicara dengan abangku sebelum kepalaku tenggelam. Semuanya terlihat gelap dengan air keruh yang terminum.

***

Aku terbangun dalam suasana riuh bercampur isak tangis orang-orang di sekitarku. Tubuhku serasa sangat lemah dan sangat sulit digerakkan. Namun, mataku dapat menatap tubuh Ibuku yang sedikit membiru.

Air mataku meleleh, kulihat seseorang yang merupakan tetanggaku berlari ke arahku sembari membawa air. Ia menggendongku dan menegukkan air itu padaku. Membuatku terbatuk memuntahkan pasir dari mulutku. Seketika semuanya menjadi jelas, kutemukan ibu terbaring lemas.

“Ibuuu!” panggilku dengan tangis yang tersedu-sedu. Aku belum siap untuk sendiri di umur yang sekecil ini.

“Ibumu baik-baik saja kok Ayla, Ibu akan sadar nanti,” ujarnya sembari membetulkan selimut tebal pada tubuhku yang tadi merosot.

Mata lemahku terus menatap ibu meskipun nasi terus masuk ke dalam perut. Kulirik sekitar, ada banyak orang yang juga terbaring lemah seperti ibu saat ini. Bahkan, aku pun sama, membiru dalam air hitam tadi.

“Sayang jangan nangis ya!” Ujar tetanggaku itu. Ia mengusap air mataku. Aku sama sekali tak mengerti akan apa yang terjadi sebenarnya.

Dengan kaki lemah, aku perlahan berjalan menuju ibu. Kulihat di kakinya terdapat sayatan, aku meringis dalam diam. Darahnya memang sudah berhenti dan mengering. Sementara itu, aku bertanya-tanya berapa lama aku tertidur?

“Bunda, Ibu kenapa?” tanyaku pada Bunda. Dalam memoriku Ibu dan abang baik-baik saja di lantai dua tadi. “Abang mana?” tanyaku semakin penasaran.

“Ibu Ayla terluka waktu ngambil Ayla di air tadi,” jawabnya dengan mata yang berkaca-kaca. Namun tak meraung sepertiku. Aku cukup mengerti apa yang Bunda katakan meski baru berumur 5 tahun.

“Abang mana, Bun?” tanyaku. Pria yang selalu menjadi teman mainku kini menghilang begitu saja dari pelupuk mata.

Wanita yang seumuran dengan ibuku itu hanya menggeleng lemah. Apa maksud dari gelengan itu? Kenapa terlihat ada banyak luka dalam matanya?

“Sayang, kita mandi dulu yuk!” ajak bunda sembari menggendongku.

“Tapi, Ibu?” Aku masih menatap ibuku yang terbaring lemah. Haruskah aku harus meninggalkan ibuku yang begitu lemah?.

“Sayang..,” suara yang kurindu itu terdengar menyayat hati, penuh luka dan tak bernada.

“Ibu!” panggilku, turun dari gendongan Bunda dan berjalan tertatih menuju Ibu, wanita penuh cinta yang telah menyelamatkanku.

Tubuhnya sangat dingin, bagai tetesan embun di pagi hari. Membawanya dalam dekapanku yang mungkin tak kalah berbeda. “Ibu!” tangisku pecah dalam dekapannya. Darah berceceran di mana-mana, membuat mataku enggan untuk menatap. Aku melepas dekapanku dan jari-jariku mengelus pinggiran luka itu.

“Sayang jangan!” ujarnya sembari meringis. Aku menarik tanganku terkejut saat melihat air matanya terjatuh.

“Maaf Bu,” tanganku bergetar, merasa bersalah dengan lukanya yang mendalam itu. Seandainya aku tidak hanyut, pasti kaki dan tubuh ibu baik-baik saja. Seandainya tanganku tidak lemah dan terlepas, wajah cantik Ibu tidak akan pucat seperti saat ini. Juga, mengapa bibir ini harus memanggilnya saat terjatuh tadi. Kenapa tidak kubiarkan saja tubuhku berada dalam lautan air keruh itu.

“Sayang, jangan nangis! Ibu nggak papa kok. Kamu nggak papa kan?” wajah pucatnya tersenyum di antara air mata yang terjatuh. Tangan lemahnya mengelus lembut wajahku.

“Adek!” panggil seseorang di seberang sana.

Suara itu, suara yang juga kucari saat aku terbangun. Kulihat Ayah berjalan ke arah kami, memelukku dan juga Ibu dengan air mata kesedihan yang sama. Entah apa yang terjadi dengan semua hal yang dulu kami gapai bersama.

“Ayah, Ibu…,” Ayah menggeleng cepat sebelum kalimatku usai.

“Ibu sehat kok sayang, kamu jangan salahkan diri kamu ya!” ujar Ayah lembut namun mata Ayah menunjukkan ia terluka melihat sayatan di kaki Ibu.

“Maaf..,” kalimat itu terdengar tidak jelas karena air matanya.

“Sayang, jaga Ibu ya…,” ujar Ayah lalu pergi begitu saja tanpa berkata sepatah kata pun.

Abang berlari memeluk ibu dengan tangis yang masih sama.  Tubuhnya bergetar seiring tangis yang semakin pecah. Melihat itu, aku tertunduk dalam diam. Rasa bersalahku semakin besar, jika aku sudah tiada mungkin mereka tidak akan merasakan hal itu dan aku pun tak akan terlihat sehancur ini.

Sebuah pelukan mengurungku, aku menengadah. Abang memelukku sembari mencium kepalaku berkali-kali, membuatku terpaku apakah benar ini dia? Abangku yang selama ini bersikap seolah tak peduli.

“Adek gak papa kan? Gak ada yang luka kan?” tanyanya setelah melepaskan pelukannya dan menatap sekujur tubuhku.

Aku hanya menggeleng dengan senyum samar, tak seharusnya aku bahagia saat suasana menyedihkan ini. Kulihat Ayah yang datang dengan seorang wanita dan sebuah kursi roda. Wanita itu mengobati luka ibu perlahan. Bibir ibu meringis beberapa kali menahan sakit. Wanita itu mendekatiku setelah memeriksa ibu. Lalu memeriksa tubuh pucatku.

“Buka mulutnya sayang!” pintanya lembut. Kutatap matanya sembari menurut, dapat kurasakan tenggorokanku yang perih. Serasa ada yang tersangkut di sana.

“Sakit Tan,” ujarku lalu menutup mulut.

“Dia terlalu banyak meminum air laut,” jelasnya sembari mematikan senternya.

“Kami akan datang lagi nanti malam sembari membawa peralatan-peralatan lain,” lanjutnya.

“Makasih Dok,” ujar Ayahku.

“Saya permisi dulu!”

***

Nada dering handphone mengeluarkanku dari lamunan duka masa lalu. Tertera Ibu yang menelpon di sana. Aku menerimanya dengan senyum mengembang.

“Assalamu’alaikum Ibu-Ayah” sapaku saat melihat wajah mereka yang berseri dengan kilauan senyuman.

Posisi Ayah saat ini berjongkok agar wajahnya sejajar dengan Ibu yang masih memakai kursi roda hingga saat ini.

“Wa’alaikum salam sayang,” jawab mereka.

“Ibu sama Ayah sehat, kan? Gimana hajinya?” tanyaku sembari menahan air mata rindu. Berpisah dengan mereka walau hanya dua minggu serasa sangat berat.

“Sehat sayang, Alhamdulillah hajinya lancar,” jawab Ayah.

“Kamu sehatkan?” tanyanya.

Mengingat masa lalu yang suram dan semua harus dimulai dari awal, aku bahagia bisa mencapai titik ini. Titik dimana setidaknya hidupku bisa kubaktikan untuk mereka. Meskipun kaki Ibu tak bisa disembuhkan tapi dia tak pernah menyalahkanku atas semua itu. Bahkan, cintanya padaku sangatlah dalam, hingga aku seolah tak pantas untuk menerimanya. Bukan hanya sekadar kata, aku sangat mencintai mereka. Menginginkan mereka selalu berada di sisiku apapun yang terjadi nantinya.

Puji syukur Tuhan yang telah melahirkanku dari rahim seorang Ibu setangguh itu hingga aku masih bisa menghirup aroma cinta hingga saat ini. Merasakan nikmatnya di setiap jejak kehidupan dengan berjuta liku penuh tanya. Bersyukur dalam bahagia hidup yang masih jadi tanda tanya.

Penulis merupakan mahasiswi FMIPA Unsyiah Program studi Fisika angkatan 2019.

Editor : Missanur Refasesa