Beranda Budaya IMITASI

IMITASI

BERBAGI
Ilustrasi (Sumber: Google)

Cerpen | DETaK

Oleh Dewi Wahyuni

Pagi itu aku sampai terlebih dahulu dipintu gerbang dibandingkan teman-teman lainnya. saat itu pukul 07.15 WIB, memang hari itu mendapat giliran piket disalah satu sekolah tempat aku praktek lapangan yang biasa dikenal mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendikan tersebut dengan PPL, ya benar saja setiap yang mengambil mata kuliah 4 SKS itu harus siap terjun langsung disekolah yang telah dipilih saat registrasi online sebelumnya, disanalah aku mememukan beragam macam karakter anak usia dini, belum lagi seragam hitam putihku ditambah sepatu bertumit menambah kegagahan tersendiri sebagai calon seorang guru.

Beberapa menit kemudian“Jehhhh ade cekgu baru kehhh?” salah seorang anak celetuk sambil lewat di depanku, tampaknya anak tersebut baru hari ini datang setelah ia meliburkan dirinya, aku hanya tertawa saja bukan hanya karena wajahnya yang lucu melainkan bahasa upin ipin yang ia tirukan.

“Heyy pandai sangat cakap Malaysia niii hahaha” balas ku sambil tertawa. Dia pun tersenyum sambil berjalan menuju tempat duduk bergantung rantai, dengan santainya anak tersebut berayun-ayun. Betapa polosnya anak-anak ini tak punya beban berat yang mereka pikirkan, yang jelas mereka hanya ingin datang kesekolah untuk bermain, benar saja dunia anak itu adalahdunia bermain, kalimat itu tak pernah lupa sejak aku duduk di semester satu dahulu yang kubaca dari buku konsep Pendidikan Anak Usia Dini.

Setiap harinya kulalui hari-hariku bersama anak-anak usia dini selama empat bulan, tak ada kejenuhan yang bearti kurasa dimana hampir setiap malam aku membaca status BBM teman-temanku yang isinya rata-rata cepatlah berahir duhay PPL, atau ada yang buat sudah gak sanggub, jika orang membacanyapun hanya sebahagian orang yang mengerti bahwasanya PPL itu memang lumayan capek karena kegiatannya rutin setiap hari dengan menghabiskan beberapa jam yang sama selain kita mengabdi disekolah tersebut kita juga kesempatan mencari ilmu disana bekal untuk menjadi guru sebenarnya kelak.

Hari sudah siang saatnya pulang kerumah untuk sholat dzuhur dan makan siang, ku gas motor hitamku seraya melaju pulang kerumah yang tidak begitu jauh dari sekolah. “Ehhhh dek dewi baru pulang”, ternyata sepupuku dari kampung yang sedang duduk didepan rumah sambil membaca komik kesukaannya, “wahh PPL dimana ibuk dewi” sambil menggodaku, di TK lah jawabku spontan saja sambil berlalu masuk kedalam rumah, memang jika ditanya orang aku agak sedikit risih karena aku harus menjelaskan lagi dari awal tentang TK dan PAUD yang bahwasanya TPA, KB,TK itu adalah PAUD, toh usia PAUD 0 sampai 6 tahun.

kebanyakan dari orang-orang kira jurusan PAUD itu saja tidak ada apalagi tempat PPLnya para mahasiswa, dikarenakanbanyak guru TK tidak sebidang dengan jurusannya, masih banyak saja ketidaktahuan orang tentang pentingnya PAUD baik itu tetangga, saudara ataupun teman lainnya, suatu ketika salah seorang tetanggaku bertanya “PPL di SMA berapa…?”sambil mendekat kearahku“Bukan di SMA” sahut ku sambil tersenyum “Bukan di SMA ya..” trus SMP atau SD berapa..? hmmm tak ada opsi PAUD gumamku dalam hati.

“Saya PPL di TK lho kak…” Ouhhh TK ya… tampak wajah penuh keheranan “memangnya ada jurusan TK ditempatmu kuliah?” sambungnya lagi, ya ada dong kak jurusan S1 PG PAUD.

“Kenapa pilih jurusan itu kan masih banyak jurusan lainnya, tapi enak juga kan cuma nyanyi nyanyi tepuk tangan makan dan pulang kan gag ada belajar ya dik”..huuuhh sambil menghela nafas, ini adalah sekesekian kalinya aku mendengar pernyataan orang mengenai PAUD

Aku semakin bingung saja banyak masih kutemukan orang disekitarku baik yang belum memiliki anak maupun yang sudah memiliki anak namun masih saja belum mengerti PAUD, yang ada dibenak mereka PAUD itu tempat penitipan anak yang orang tuanya malas menjaga anak dirumah atau kerepotan karena mengurus hal lainnya atau malu melihat anak tetangga sebelah menyekolahkan anak alias ikut-ikutan tanpa tahu tujun sebenarnya kenapa PAUD itu wajib ada disetiap desa dan kenapa pendidikan anak usia dini (PAUD) itu penting Ada rasa sedih dan menyesal jika masih ada pikiran-pikiran orang tua seperti itumereka tidak tahu betapa bahagianya aku yang mengenyam dijurusan pendidikan anak usia dini, banyak hal yang awalnyatidak kuketahui kini kudapatkan, betapa sayangnya Tuhan kepadaku mengirimkan ku untuk kuliah belajar mengenai dunia anak besar keinginanku untuk melanjutkan S2 jurusan PAUD

Dari mulai anak lahir sampai ia berusia 6 tahun disanalah masa anak usia dini ini menjadi masa golden age sekaligus masa kritis, mengapa demikian tinnnn tinnn sepertinya ada orang diluar rumah langsung saja kubuka pintu ternyata teman seperjuanganku datang, kalau para perempuan berkumpul tak lain kegiatannya adalah bercerita, namun tak lepas dari kata-kata “bagaimana PPL disekolahmu?” Tanya seorang temanku, “hahaha rasanya nano-nano” jawab ku sambil bercanda, tempat kami PPL aneh bin nyata, ada anak yang tidak sisir rambut kesekolah dan anak anak yang tidak mau tertawa asik diam saja dikelas, setiap anak memang gak ada yang sama, guru-guru hebat dan berjiwa sabarlah yang mampu mengajar di PAUD.

Begitulah setiap hari minggu berganti minggu bulan berganti bulan, tak terasa sudah memasuki bulan ke 3 saya berbaur terhadap anak-anak, ada hal yang tak pernah saya lupakan ketika ada anak yang lucu yang pertama kali memanggil saya cekgu ia adalah anak yang mudah bosan tapi berani tampil didepan kelas dan kalau tak terpenuhi keiinginannya dia tidak mau keluar kelas sementara teman temannya yang lain sudah tidak sabaran mau pulang karena orang tua murid sudah berada didepan gerbang sekolah, tapi anak tersebut sebenarnya anak yang lucu dan cepat mengahafal materi melalui nyanyian, nyanyian yang paling ia sukai adalah 10 nama malaikat, terdapat 9 kecerdasan yaitu kecerdasan linguistic, logika matematik, musical, visual spasial, kinestetis, intrapersonal, interpersonal, naturalis dan kecerdan spiritual, jika anak suka bermain musik orang tua jangan risau, bisa jadi kelak nanti anak menjadi pemain biola dunia. yang dibutuhkan seorang guru untuk menghadapi anak seperti itu berikan pujian serta motivasi.

Apapun yang terjadi terhadap anak baik dia pendiam, pemarah, suka memukul, menangis, bergerak aktif bahkan super aktif itu bukan salah anak, mereka adalah korban imitasi dari kehidupan di lingkungan sehari-harinya. Ada orang tua murid bertanya kepada saya “dik kenapa ya anak saya malas sekali belajar dirumah satu tambah dua aja gag bisa… anak tetangga udah bisa berhitung, membaca padahal masih TK juga”, ahirnya setelah ku mendengar keluhan ibu itu aku yang kembali bertanya, buk kalau dirumah anak suka buat apa yang ibu lakukan?“Ohh ia kalau saya lagi masak dia ikut-ikutan masak, sering saya marah gag bisa dibilang lagi bandel luar biasa tidak seperti adiknya yang patuh”. Lalu kalau anak ibu berbuat sesuai aturan bagaimana?, “ya senanglah saya diamkan saja, saya ingin anak saya jadi orang pandai dan disiplin jngan hanya taunya main saja sudah disekolah main ya dirumah harus tidur, belajarlah kalau gak saya kerepotan sekali mau gosok kain, beresin rumah haduhhh itulah anak-anak ya,,,” haaaaaaa ya benar bu itulah anak-anak bermain adalah duniannya, “trus kalau selalu main kapan belajarnya?”,

Sesungguhnya anak itu belajar melalui bermain kenapa hanya diPAUD yang ada sentra pembelajaran misalnya bermain balok, bermain pasir, bermain peran bermain bongkar pasang dan lainnya bukan kotornya kita fikirkan saat bermain balok tapi perkembangan kognitifnya bagaimana anak-anak kita membentuk menara membentuk gunung dari pasir itu melatih perkembangan kognitif anak, dan kenapa anak-anak dilibatkan bermain peran karena secara tidak langsung kebahagiaan anak-anak tercipta disana sosial emosionalnya disana yang kita kembangkan, bukan soal barang-barang bekas yang ia gunakan tapi manfaatnya, dengan bangganya anak-anak memerankan sedang memasak, ada yang membawa sapu seolah-olah sedang mengendarai pesawat, bukan tampa maksud anak diberikan kesempatan bermain, kita bukan hanya stimulus perkembangan kognitifnya saja tetapi perkembangan social emosional, bahasa, seni, fisik motorik dan yang terpenting nilai agama moral yang kita terapkan sejak dini. Anak itu imitasi dari apa yang ia lihat, dia akan meniru orang tuanya. Ibu itu tampak semakin mendekat duduknya dan tampak lebih serius.“Ouh begitu ya dik trus-trus?” dengan rasa tak sabar ingin tahu semuanya, iya bu trus saat anak kita tidak bisa matematika bukan bearti dia bodoh, mungkin saja dia hebat saat bercerita, mengolah kata sehingga nantinya menjadi jurnalis yang sukses, ada juga anak yang jago sekali merancang balok menjadi bangunan siapa tahu bakatnya dibagian arsitektur, tidak jarang juga ada arsitek yang sukses dengan rancangan bangunan yang memiliki nilai estetika yang luar biasa indah.“Itulah dik anak saya ni kadang-kadang bangun tidurnya aja masih lama jadi suka malas dia kesekolah”, dengan nada sedih,

“maaaakkkkkkk yak jakwo..” terdengar teriakan ajakan pulang dalam bahasa aceh..dari tempat bermain ayunan disebalah sana.. “ooee siat neuk beh” ya sebentar nak ya.. sahut ibu itu anaknyapun melanjutkan bermain ayunan.

Aku dan ibu itu melajutkan pembicaraan kami keintinya, jadi bu kan sebenarnya yang dibutuhkan anak itu motivasi dan apresiasi, pujian juga dah suatu penghargaan buat anak, ketika anak menunjukan hasil gambarnya kita harus puji kita angkat jempol kita, anak paling tidak suka dikerasin bu, yang ada nantinya melawan, apalagi sampai mengancam, membandingkan dan meremehkan anak itu bisa membuat dia menjadi tidak percaya diri lagi. Pembiasaan yang penting bu mulai dari hal kecil meletakan sepatu pada tempatnya mencuci tangan sendri sebelum dan sesudah makan sampai pembiasaan yang rutin dilakukan anak setiap harinya, tapi kembali lagi buk, anak itu peniru yang ulung, jadi kita contohkan perilaku dan kebiasaan- kebiasaan yang baik, karna kalau sudah besar sudah susah kita terapkan nilai-nilai agama moralnya kalau bukan sejak usia dini, maakkkk… kini anak tersebut sudah beranjak dari ayunannya dan mengajak ibunya pulang, “teringat akan pepatah yang pernah diucapkan ayahku, buah jatuh tak jauh dari pohonnya” gumamku dalamm hati, akhirnya kami cukupkan pembicaraan kami, buk guru makasi banyak ya, saya jadi banyak tahu” sambil menyalami saya dan tersenyum, “sama-sama ibu sebelumnya saya juga tidak tahu apa-apa tentang konsep pendidkan anak usia dini, sebelum kuliah dijurusan pendidikan anak usia dini.

Akhirnya kami pulang kugas kembali motor hitamku menuju rumah, diperjalanan aku sempat terpikir anak itu amanah, anak adalah peniru yang ulung, yang selalui ingin tahu yang besar wajar saja anak banyak tanya apa, kenapa, siapa secara berulang-ulang karena itu sudah bagian dari karakteristik mereka. Jika anak dibesarkan dalam ancaman ia akan belajar menutupi kesalahan, jika anak dibesarkan dengan ketentraman ia belajar berdamai dengan pikiran dan jika anak dibesarkan dengan persahabatan ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan jika anak dibesarkan dengan pembiasaan baik maka orang tua dan guru telah berhasil menumbuhkembangkan anak dimasa masa golden age (usia keemasan) yang hanya sekali terjadi pada anak usia dini.[]

Penulis adalah Dewi Wahyuni, Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Prodi PAUD 2012.

Editor: Riska Iwantoni

Comments

comments