Beranda Budaya Di Delapan-Delapan, Aku Berhenti

Di Delapan-Delapan, Aku Berhenti

BERBAGI
Ilustrasi (Sumber: Google)

Cerpen | DETaK

Oleh Radhia Humaira

Betapa pilu ketika hati diselimuti rindu tak bertuan. Menelusuri jejak-jejak jalan untuk ku temui sang pemilik rindu. Terkadang ku dapati, tetapi tak jarang Aku merasa ditinggali. Adakah Kau enggan menemuiku kembali, duhai rindu…

Rindu “betapa kali betapa” ya Rabb…

Ayu benar wajah tanah kelahiran. Hijaunya masih menggambarkan alam pedesaan. Baru saja Aku tiba di sini usai menanti nama seseorang. Meski Aku seorang sarjana, belum ada pekerjaan yang membutuhkan criteria sepertiku sejauh ini. Sebab itu, ku putuskan untuk pulang, sekalian menjenguk Ibu tercinta.

Betapa Aku sangat mencintai ibuku. Sering Ia ku sebut dalam ceritaku pada orang-orang. Layak sekali Allah memberikannya anak sepertiku, yang tetap mengakuinya meski ada hal lain yang ingin ku gapai harus rela ku lepas karena pengakuan itu. Ini bukan cerita legenda atau sebatas cuap-cuap pengangguran. Tapi ini memang benar adanya, potongan kisah anak rantau yang sedikit memalukan. Betapa kali betapa…

Ku sisir jalanan kampung dengan jiwa penuh rindu. Mata hanya ku kedip sesekali untuk menjaga kelembabannya. Rindang pepohonan diselingi beberapa pohon jarak cukup menjadi penyejuk punggungku yang hanya tertimpa ransel kecil. Ku pelankan laju motor sembari mengintip pula kepak sayap burung-burung sore di balik kacamata minusku. Damai sekali rasanya di sini, setelah lama dengan kebisingan kota.

Atap rumah kelihatan sudah. Tak lama rinduku menepi di depan mata. Duhai… aku menatap paras perempuan yang melahirkanku. Terimakasih, Kau telah menjaganya selama ku di alam rantau.

“Bakhtiar”

Ku peluk Ibu seerat-erat pelukan. Ibuku yang kerap disapa umi oleh penduduk kampung terus bersalawat dalam dekapanku. Kadang, ketika ku lihat Ibu terlintas betapa bahagianya Ayahku pernah mendapat istri sesolehah seperti ibu. Entah iyakah Aku akan dapat pula yang seperti itu. Betapa kali betapa harapanku… Namun, sudahlah! Bukan Dia!

1980 silam menjadi masa lampau indahku bersama Ibu. Ibu memberikanku layang-layang ikan agar dapat ikut bermain dengan Badrun, kawan kecil yang sekarang telah lebih dulu menghadapNya. Badrun, hanya lebih tua satu jam denganku. Badrun, teman kecil selama sepuluh tahun bersama karena pertemanan kami harus tersita dengan pendidikan dan kematian. Usia 19 tahun Badrun meninggal, sementara Aku melanjutkan pendidikan tinggi di kota Yogyakarta.

Dulu, Ibu mengantarkanku ke tanah UNY menggunakan kereta api yang setiap paginya -semasa ku belum baligh-, ibu sering membawaku bertemu dengan masinisnya sebelum kereta berangkat. Setiap pagi! hingga lama kelamaan Aku menolak kegiatan itu. Merasa malu karena setiap bertemu dengannya Aku selalu mendapatkan uang darinya.

“Kenapa Aku selalu diberikan uang bu?”

“Dia lebih tua dari kamu, sudah wajar Ia memberi. Kamu lebih muda darinya, tidak salah kamu menerima”

Itulah jawaban Ibu yang selalu sama sebanyak 480 kali. Karena Aku mulai bertanya seperti itu ketika umur 7 menjelang 8 tahun. Aku bertanya sekali seminggu selama sepuluh tahun. Tepat! Aku memiliki pertanyaan dan jawaban yang sama sebanyak 480 kali dari usia 7 hingga 17 tahun.

Dua tahun setelah lama bungkam dalam pertemuan dengan masinis itu, Aku baru mengetahui ternyata Ia dan Ibuku pernah terlibat cinta. Ia mantan Ibu, namun Ia bukan mantan ayahku. Mereka bercerai. Semenjak itulah Aku enggan bertemu dengannya dan mulai melatih Ibu untuk menjauh dari ayah. Luka Ibu begitu besar terlihat di pupilku, sementara luka ayah, samar ku tatap. Karena di balik luka, ada tiga kebahagiaan lain dibelakangnya. Istri, anak ke duanya, dan profesi masinisnya.

“Bakhtiar, bagaimana pekerjaan kamu di sana nak?” ibu menyuguhkan secangkir teh hangat di sela kenangku beberapa tahun lalu.

“Belum ada bu. Setelah Aku keluar dari perusahaan produksi mainan anak, Aku belum menemukan ganti pekerjaanku. Hanya mendayung becak. “ kataku sembari memaksa senyum.

“Ah tak apa… Yang penting ada usaha mencari. Lagipun, kamu masih bisa mendapat penghasilan meski mendayung becak” Ibu menguatkanku.

“Bagaimana dengan Ami? Apakah kalian masih sering berjumpa?”

Ami? Penghantar rinduku dengan si buah hati. Mendengar namanya, Aku semakin sulit menghempaskan rasa rindu. Duh Ibu… kenapa harus kau bangunkan rindu di kepalaku? Ini penyakit melebihi AIDS, yang tak kunjung terobati karena jua tak ada obatnya. Bahkan pertemuan dengannya pun kerap menjadi virus yang kian erat menyebar dan merekat. Dia bukan penyembuh, meski perjumpaan sering mencoba menjadi mediasi antara Aku dan rindu. Ami malah membuat rinduku semakin merindu dan sakitku semakin sakit.

“Aku belum bisa membawa pulang cucu Ibu. Namanya saja Aku tidak tahu bu” ku coba beranjak dari waktu yang bergeming.

Ami terlalu sulit memberitahu nama anandaku. Seperti cerita dulu, untuk bertemu dengannya, perlu ku tempuh beberapa dimensi. Waktu, jalan, cerita dan emosi mesti lengkap menjadi partner sejati.

“Ayolah bu, ini antara nasib dan takdir kita. Mana tau.., jika kita punya usaha sedikit lagi, itu akan dapat berubah. Mana tau… ada cerita dongeng yang bisa jadi nyata. Mana tau… itu terjadi sama kita bu. Tapi Aku tau.., Tuhan tak pernah berdusta bu” ku coba menghibur raut tua itu setelah Ia mendengar kabar Aku sesungguhnya. Besar harapanku membawa pulang anakku dari Ami. Ami? Sama sekali tidak.

Tujuan ku pulang ke sini untuk mencairkan kembali bekunya pikiran di antara polusi kota dan masalah rumah tangga. Tapi Ibu, kini malah seakan menjadi biang polusi itu kembali.

Astaghfirullah… Astaghfirullah…

Istighfar ku dalam hati setelah sedikit sempat terbesit stereotype buruk untuk ibu.

Sambil menyeruput teh yang tersisa beberapa tetes lagi dalam gelas kaca, Aku teringat akan filosofi Yunani kuno, “Air adalah prinsip pertama dari semua benda”. Ya, Aku mengerti apa yang harus ku lakukan kini. Apalagi, detik-detik ke depannya setelah keteringatanku terhadap filosofi itu bersambung dengan ingatan terhadap salah satu peneliti Jepang, Masaru Emoto yang berhasil menerima gelar Doctor of Alternative Medicine dari Open Internasional University. Ini ada kaitannya dengan air di gelas kaca tadi.

Dari penelitiannya, ada hikmah yang dapat dipetik, bahwa pikiran kita dapat memengaruhi air yang berdampak sangat besar bagi kesehatan dan kehidupan. Jika terus galau menjadi pilihan, maka Kristal air yang terbentuk tidak akan indah dan dapat memengaruhi positifisme pemikiran.

Setelah membaca bukunya The True Power of Water yang diterjemahkan ke dalam 23 bahasa, dan Aku memilih membaca dalam bahasa Indonesia, Aku jadi rajin bersentuhan dengan air. Hingga wudhu menjadi pilihan utama setiap kali ingin menenangkan jiwa yang jasadnya dipenuhi tujuh puluh persen air itu sendiri. Bukan Emoto yang kerap diundang ke berbagai Negara seperti Belanda, Kanada, Jerman, Inggris, Amerika Utara dan lainnya, yang membuatku berwudhu. Akan tetapi, jauh sebelum itu, Aku ingin mengindahkan warisan Rasulku. Namun kekagumanku akan penulis sekaihatsu ini turut menambah cintaku pada firmanNya dalam Al-Anbiya [21]: 30.

“mau tambah lagi teh nya?” tawar Ibu.

“tidak, Bu. Aku berwudhu saja. Ingin mengaji sambil menunggu azan magrib. Nanti kita shalat jamaah ya Bu…”

Aku berlalu dari hadapan Ibu dengan wajah senyum paksa. Entah sampai kapan Aku sanggup berdrama dengan diriku sendiri. Hidup dalam keterpaksaan, iman naik turun, rindu kadang tak bertuan, saku pun lebih sering tak tebal. Namun tak ada putus asa untuk memohon kepadaNya. Bukankah Dia berfirman bahwa akan mengabulkan permohonan bagi yang berdoa kepadaNya? (QS. Al-Baqarah: 186)

Ku ambil mushaf Al-Quran terjemahan, terbitan Penerbit Diponegoro dalam ransel dan membacanya. Kali ini Aku telah sampai di surah Al-Qashash. Ketika ayat 88 sebagai ayat terakhir dari surah itu ku baca, Aku pun melirik artinya “Dan jangan (pula) engkau sembah Tuhan yang selain Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah ) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.

Cukup sudah, Aku berhenti. Pasrah dan tawakkal. Mana tau… dengan kembalinya ku ke kampung halaman, ada sesuatu yang lebih baik ku dapatkan di pulau perca ini. Cukup di ayat 88 Al-qashash, Aku berhenti melirik rindu lama.[]

(“Di Delapan-Delapan, Aku Berhenti” merupakan cerita versi ke 2. Jika ingin membaca versi 1, pembaca bisa kunjungi http://cerpenmu.com/cerpen-sedih/di-balik-ramuan-untuk-anandaku.html

Penulis adalah Radhia Humaira, mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah, juga tercatat sebagai wartawan DETaK.

Editor: Riska Iwantoni

 

Comments

comments