Beranda Cerpen Tangisan Kota Tua

Tangisan Kota Tua

BERBAGI
Istimewa (Sumber: Google)

Cerpen | DETaK

Oleh Reza Fahlevi

“Ketika pagi menyapa, saat kami membuka mata dengan perlahan, bahkan suara itu tidak pernah berhenti. Setiap saat kami berdoa kepada Tuhan, memohon pertolongan-Nya. Kami ingin melihat senyuman walaupun hanya sedikit saja dari bibir kami, tapi itu benar-benar senyuman yang datang dari kesejukan hati, bukan sebuah senyuman paksaan. Kami yakin Tuhan bukan tidak mendengar, kami yakin pertolongan itu akan segera datang walaupun saat ini kami sedang menangis dan berjalan di atas duri, walaupun malam memburu kami, kami percaya hati kami tegar. Lihatlah ke depan, sebuah masa depan yang kita rindukan.”

Setidaknya begitulah mereka memohon. Di sebuah kota yang penuh dengan debu, bangunan-bangunan yang hancur, di sanalah mereka berdiam diri. Suara-suara tembakan itu begitu jelas terdengar dan benar-benar memburu mereka. Tidak ada hal yang dapat mereka lakukan selain bersembunyi, berlindung di balik puing-puing reruntuhan itu. Di sanalah mereka bertahan hidup.

Puluhan tahun sudah Banda Jivah hidup dengan air mata yang tidak pernah berhenti. Sejak pertama kalinya mereka mengeluarkan suara tembakan, dan burung-burung pun pergi untuk melindungi diri mereka. Saat itu hari tidak pernah tersenyum lagi, semua harus dijalani dengan kewaspadaan. Ribuan orang tergeletak kaku di jalanan yang penuh dengan darah di tubuhnya.

Semuanya dimulai dari tangan kedua pemimpin hebat di kota itu. Fernand Nuno dan Dostarno Ghian adalah dua tokoh yang sangat berpengaruh di Banda Jivah. Ketika semua berjalan sangat bersahabat dimana keduanya saling bekerja sama untuk membangun kota, sampai pada akhirnya keserakahan dan keegoisan mereka menjadi mimpi buruk bagi kota ini. Bukan hal yang baru jika mereka bermusuhan karena jabatan, itu adalah permasalahan yang sangat sering terjadi, dan hal yang kecil itu dengan cepat berubah menjadi besar karena keangkuhan mereka berdua.

Destarno Ghian yang menang dalam sebuah pemilihan umum dan membuatnya menjadi kepala pemimpin Banda Jivah, dengan cepat semua janjinya terlupakan terhadap Fernand Nuno. Sebelumnya, keduanya telah berjanji untuk saling memberikan jabatan dan membangun kota bersama siapa saja diantara mereka yang menjadi kepala pemimpin. Namun janji itu lenyap dalam sekejap dan membuat Fernand membentuk pasukannya sebagai bentuk rasa kekecewaannya terhadap Destarno. Ia mulai membujuk orang-orang di kota untuk bergabung dengannya, ia mulai mengatakan hal-hal buruk kepada Destarno.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Destarno, ia tidak ingin melihat ada orang yang memberontak terhadap dirinya. Maka ia juga membujuk orang-orang untuk menuntaskan para pemberontak di Banda Jivah. Peperangan yang awalnya dimulai dari mulut ke mulut kemudian berlanjut dengan saling membunuh. Ratusan senjata dengan berbagai jenis datang dan mulai menumpahkan darah. Kedua pemuka itu tidak segan-segan untuk membunuh warga yang tidak berdosa. Destarno akan membunuh siapa saja pengikut Fernand, ia juga menyiksa orang-orang yang tidak memihak siapapun. Hal ini berbeda dengan Fernand, walaupun ia juga melakukan hal yang sama untuk pengikut Destarno namun ia tidak menyakiti orang-orang yang tidak memihak kepada keduanya. Namun itu sudah cukup membuat Banda Jivah hancur lebur di tangan mereka. Perlahan tapi pasti kota itu hancur dengan keegoisan mereka.

Sepuluh tahun sudah derita Banda Jivah dan semuanya belum berakhir. Bahkan saat kedua pemimpin itu tutup usia, penerus dari keduanya telah lahir yaitu anak mereka berdua. Tidak ingin membuat nama sang ayah malu, maka mereka bersumpah untuk melanjutkannya sampai semua benar-benar berakhir. Tapi akankah itu berakhir? Secepat itukah?

Saat kedua anak mereka memimpin peperangan ini semua menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Korban semakin banyak berjatuhan bahkan anak-anak pun yang masih belum mengerti apa-apa, yang masih belum memiliki dosa harus mati. Kejahatan semakin menjadi nyata dimana penindasan, perampokan, wanita-wanita di perkosa, para suami di bunuh, dan aksi kejahatan lainnya yang seharusnya tidak terjadi.

Alan Hish Ghian, putra Destarno Ghian, memimpin pasukannya untuk menyerang kelompok yang mereka anggap sebagai pemberontak di kota ini, di pimpin oleh Julio Resemberg, putra Fernand Nuno. Banda Jivah semakin larut dalam kehancuran, air mata terus menemani kota ini selama bertahun-tahun. Bahkan mimpi dari kedua pemimpin tersebut untuk mencapai perdamaian tidak akan pernah tercapai jika rasa egois masih ada dalam diri mereka, jika rasa tak pernah puas masih ada di dalam hati mereka.

Malam tiba seperti biasa, suara tembakan yang sudah menjadi mimpi buruk bagi Banda Jivah masih memburu siapa saja yang terlihat. Dari sebuah rumah kecil dan gelap, hanya ada sebatang lilin untuk menerangi kegelapan di malam hari, sebuah keluarga kecil berkumpul di sana. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka setelah ledakan dari sebuah roket yang menghancurkan sisa puing-puing bangunan beberapa kilometer dari rumah itu. Air mata terus mengalir tanpa henti, seakan terus-menerus berdoa meminta pertolongan agar semua peperangan dengan cepat usai.

Mereka adalah sebuah keluarga yang netral karena mereka tahu jika mendukung salah satu dari kedua pemimpin tersebut, keadaan hidup mereka tidak juga berubah. Maka mereka tetap pada pendiriannya dan berusaha melarikan diri dari kota ini. Rumah mereka hancur akibat serangan tersebut, dan kini mereka harus menetap dan bersembunyi di sebuah rumah yang sudah tidak layak untuk dihuni lagi. Lalu bagaimana cara mereka melarikan diri dari Banda Jivah ini sedangkan semua perbatasan di daerah itu di tutup, semua perbatasan sekarang ini milik kedua pemimpin itu. Mereka perintahkan pasukan mereka untuk menjaga setiap perbatasan di Banda Jivah untuk memastikan tidak ada orang yang akan keluar dari kota ini. Lalu, semuanya hanya jalan buntu, mereka hanya orang biasa yang ingin bertahan hidup, tapi keegoisan kedua pemimpin tersebut benar-benar menjadi mimpi buruk bagi mereka.

Ketika matahari belum terlihat, setelah melaksanakan ibadah, keluarga ini berjalan sedikiti demi sedikit dan memastikan mereka tidak membuat keributan saat berjalan. Josh yang merupakan anak tertua dari keluarga tersebut mendapat pesan dari sang ayah. Ia sadar, sebagai pemimpin dalam sebuah keluarga ia harus melindungi istri dan anak-anaknya, maka ia berpesan kepada anaknya jika ia tertembak ia ingin Josh terus berjalan dan membawa keluarganya ke tempat yang aman.

“Jangan kau hiraukan aku, kita harus terus berjalan, dan jika hal itu terjadi kau yang akan memimpin keluarga ini. Aku percaya padamu.” Josh menangis tersedu-sedu karena ia tidak akan sanggup melihat salah satu keluarganya terbunuh. Namun entah karena itu sebuah firasat yang mungkin sudah ada dalam hati ayahnya, setelah ia mengatakan itu, di tengah perjalanan seseorang dalam kegelapan mengeluarkan sebuah tembakan dan peluru itu tertuju pada ayahnya. Josh tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat ayahnya tergeletak di jalanan, dua peluru lainnya menyusul dan mengenai ibu dan adik perempuannya. Saat ia melihat ke arah adik laki-lakinya, ia sadar jika mereka kini hanya tinggal berdua saja, maka dengan segera ia menarik tangan sang adik dan berlari sejauh mungkin untuk berlindung.

Namun, adiknya yang paling kecil ini pun juga terkena tembakan di perutnya. Ia baru menyadari itu ketika mereka sampai di sebuah tempat. Josh tidak tahu harus berbuat apa, “bertahanlah, dik, aku akan menolongmu. Kau harus kuat.” Ia terus mencari sesuatu untuk menutupi darah yang terus mengalir dari perut sang adik. Akan tetapi, semuanya terlambat. Mata sang adik dengan perlahan tertutup, tapi ia berjuang keras untuk mengatakan sesuatu kepada saudaranya yang paling tua ini.

Dengan kata-kata yang belum begitu jelas ia membisikkan, “aku menyayangimu,” dan anak kecil yang baru berumur empat tahun ini pun sudah tak bernyawa lagi. Kini ia tinggal sendiri dan tidak tahu harus berlari ke mana. Namun sebelumnya, ia menguburkan sang adik dan berharap ia dapat terus tersenyum walau tidak pernah lagi membuka matanya.

Josh hanya seorang anak remaja berumur tujuh belas tahun dan ia harus menerima semua kenyataan ini. Ia juga tahu bahwa tidak ada jalan yang dapat di lewati untuk melarikan diri dari neraka ini. Maka ia menulis sebuah surat tentang semua rasa sakit yang ada padanya, ia ingin semua orang yang tidak bersalah memiliki hak untuk hidup dan sudah saatnya perang dihentikan. Ia ingin membuat kedua pemimpin itu sadar atas apa yang telah mereka lakukan selama ini, bahwa perdamaian itu sungguh indah tanpa ada rasa kebencian sedikitpun.

Pagi itu ia telah mempersiapkan semuanya. Kali ini Josh mencoba memberanikan diri dan menyelinap masuk ke salah satu sarang dari pemimpin tersebut. Ia tidak peduli karena yang terpenting adalah surat yang telah ia tuliskan itu dapat mereka ketahui lalu mereka renungkan baik-baik. Namun keberaniannya itu sepertinya tidak berpengaruh bagi mereka. Belum sampai ia di markas salah satu pemimpin itu ia sudah tertembak di kakinya. Tapi ia tidak menyerah dan mencoba menjelaskan maksud semuanya, ia ingin menyampaikan keinginan semua orang-orang yang menangis di kota ini.

“Aku ingin kalian mendengarku, tolong. Keluargaku telah meninggal akibat perang ini, aku mohon hentikan peperangan ini, terlalu lama kita hidup dalam penderitaan ini.” Ia terus mencoba memberitahukannya, tapi tidak mudah memang. Dengan kakinya kini yang pincang ia berusaha berjalan kepada salah seorang. Walaupun orang-orang bersenjata menyuruhnya untuk berhenti berjalan, ia tidak mendengarkannya. Lalu mereka menembaki tangan kirinya, Josh terjatuh sesaat dan memegangi tangannya yang terluka itu.

“Apa kau tidak dengar? Berhenti kataku!” Teriak salah seorang bersenjata itu. Dengan air mata Josh tetap berusaha berdiri dan memaksakan dirinya berlari dengan kaki dan tangannya yang sudah terluka. Ketika dirinya hampir sampai kepada salah satu pria bersenjata itu, salah seorang lainnya menembakinya dan mengenaninya di bagian perut. Ia terjatuh dan menangis. Pria itu datang menghampirinya, “kenapa kau tidak mendengarku?”

“Aku hanya korban dari kalian semua, keluargaku mati karena perang kalian ini.”

“Setidaknya kau tidak akan mati jika kau mau mendengar perkataanku.”

Josh menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan, “cukupkanlah peperangan ini, jangan ada lagi orang yang mati. Begitu banyak orang tak berdosa mati, mereka juga punya hak untuk hidup. Aku mohon hentikan, tolong katakan kepada pemimpin kalian siapapun dia.”

Namun pria itu menggelengkan kepalanya menandakan ia tidak setuju dengan anak ini. “Kami tidak bisa berhenti karena ini menyangkut harga diri kami, dan siapa kau dengan beraninya berbicara seperti itu di kota ini.”

Josh lalu bangkit sambil memegangi perutnya yang terluka parah, air matanya pun tidak berhenti mengalir dari kedua matanya itu.

“Aku warga Banda Jivah dan kota ini milik semua orang bukan milik kalian berdua,” ia kemudian mengambil selembar kertas yang merupakan sebuah surat yang ia tuliskan sebelumnya dan memberikannya kepada pria itu.

“Ini adalah isi hati rakyat Banda Jivah, kau harus memberikannya kepada pemimpinmu,” pria itu mengambil secarik kertas itu, ia mulai merasa kasihan pada anak itu.

“Cobalah berpikir seandainya kau bernasib sama sepertiku dan semua keluargamu tewas …” namun sebelum ia mengatakan semuanya, seseorang menembakinya dari belakang. Ia berlutut tak berdaya dan melihat pria di depannya itu dengan tatapan penuh harapan. Ia pun tewas di sana sedangkan pria itu tidak bisa berkata apa-apa, ia menitkikkan air matanya sebagai bentuk penyesalannya terhadap anak itu. Pria itu membuka lipatan kertas tersebut dan membacanya.

Namun setelah itu ia membiarkannya terbang bersama angin, “Kuburlah anak ini dan jangan perlakukan dia dengan kasar. Semoga kau tetap tersenyum, nak.”

Puluhan tahun berjalan sejak kedua anak dari pemimpin itu melanjutkan perjalanan ayah mereka. Banda Jivah masih tetap berdiri dengan kedua kakinya seolah ingin memberitahu kita bahwa ia tetap kuat dengan rasa sakit yang sudah melandanya bertahun-tahun. Mungkin ia juga berharap semoga surat yang pernah dituliskan oleh Josh benar-benar membuat kedua pemimpin itu membuka matanya walaupun saat ini surat itu sedang melayang entah ke mana. Dengan semua rasa sakit, jutaan air mata, darah, dan nyawa, masa-masa kegelapan Banda Jivah akan segera berakhir. Percayalah, karena tuhan pasti mendengar doamu.

Penulis adalah Reza Fahlevi, mahasiswa FKIP Program Studi Bahasa Inggris Universitas Syiah Kuala angkatan 2014.

Editor: Eureka Shittanadi

Comments

comments