Beranda Cerpen Selamat Jalan Bapak

Selamat Jalan Bapak

BERBAGI
Foto: Google.

Suasana langit begitu indah ditambah dengan hiasan burung-burung yang beterbangan menambah elok lukisan yang tergores di langit sore ini. Desiran angin seakan-akan membawa jiwa yang terpenjara ini terbang mengitari hijaunya sawah yang tampak terlentang bak permadani hijau. Suasana sore ini menjadi penawar lara yang kurasa saat ini.

Saat dia benar-benar tak sanggup lagi menahan sakitnya, bibirnya hanya mengeluarkan kata “Euuhh”. Saat ku menanyakan “Paken Pak? Pat na saket?” ia hanya menjawab dengan senyuman. Sungguh jawaban yang sangat tegar untuk seseorang yang sedang menderita sakit seperti itu.

Bapak mengidap penyakit maag yang cukup parah, ditambah lagi karena umurnya yang sudah hampir 1 abad, yaitu 80 tahun. Tentu saja ia tak lepas dari penyakit-penyakit lansia seperti reumatik dan asam urat, yang telah benar-benar melengkapi penderitaannya saat itu. Sebagai seorang cucu yang paling akrab dengannya, aku tak sanggup melihat penderitaannya, tanpa diundang air mataku selalu menetes saat membuka pintu kamarnya. Terlihat bapak yang sedang terbaring lunglai di tempat tidurnya, ingin rasanya melihat bapak kembali sehat seperti biasanya. Melihat kembali sinar matanya yang cerah, melihat lagi dia mendayung sepeda ontelnya, melihat lagi dia sibuk dengan ayam kesayangannya. Saat bapak sakit tak ada seorang pun yang menyentuh sepedanya, sepedanya yang dulu selalu dirawat dan dilap sampai kelihatan begitu mengkilap, kilauan matahari pun seakan kalah dengan kilauan sepeda ontelnya. Sekarang sepeda itu sudah tak terawat lagi, sepeda itu tidak lagi berkilau seperti dulu. Sepeda itu hanya tersandar di beranda rumah. Nampaknya sepeda itu juga ikut merasakan sakit seperti yang bapak rasakan.

Hari demi hari terlewati, tapi kondisi kesehatan bapak tidak kunjung membaik, malahan kondisinya kian hari kian parah. Tapi dia masih terlihat tegar dengan segaris senyum yang menghiasi wajahnya. Siang itu sepulang sekolah aku langsung bergegas ke rumah bapak. Saat di sekolah, aku tidak bisa diam, pikiranku terrbang mencoba mencari tahu keadaan bapak di sana. Siasatku mengatakan ada sesuatu yang terjadi pada bapak, oleh karena itu aku begitu ingin ke rumah bapak sepulang sekolah. Sesampainya di sana, aku langsung ke kamarnya. Alhamdulillah, ternyata bapak baik-baik saja.

Dia tersenyum dan berkata “Awai that woe sikula lagoe nyak?”, sinar matanya tak seredup kemarin. Aku pun menjawab “Nye pak, awai woe sebab na rapat bak sikula.”

“Kaleuh pajoh bu nyak?” mendengar pertanyaannya, langsung saja air mataku mengalir membasahi pipiku. Aku tercengang dan memandangnya hampa. Dalam keadannya yang sangat membutuhkan perhatian dari orang lain, bapak masih sempat meluapkan perhatiannya kepadaku. Lalu terdengar suara deritan pintu, langsung saja aku menyeka air mataku. Ternyata nenek membawakan makan siang untuk bapak, langsung ku raih nampan berisi makanan tersebut, “Jeut lon nyang peungon bapak pajoh bu Mi”.

Lalu nenek keluar dan hanya tinggal aku bersama bapak di dalam kamar tersebut. Sejenak susana terasa begitu hening, seperti tak ada kehidupan di ruangan tersebut. Tak terdengar suara apapun, yang ada hanya suara angin yang membelai lembut rambutku, sehingga aku pun terbangun dari hening. Saat terdengar suara batuk bapak barulah aku teringat akan makan siang bapak. Mungkin jika makanan itu bisa melihat, ia akan membentak dan memarahiku karena telah membuat dia menunggu. Aku pun langsung menyuapi bapak, dia terlihat tidak nafsu makan. Bagaimana tidak, kurasa dia sudah cukup kenyang dengan rasa sakit yang menggelayuti tubuhnya saat itu. Tak bisa ku paksakan, bapak hanya makan tidak lebih dari lima suap. Ini akan membuat tubuhnya semakin rapuh dan tulang-tulang semakin kelihatan, dia terlihat layaknya kerangka yang hanya diselimuti kulit. Apa boleh buat, sekeras apapun aku memaksanya untuk menghabiskan makanannya, dia tetap tak akan sanggup. Aku pun keluar dari kamarnya dan kurasa dia telah terlelap di dalam sambil mengayunkan butir tasbihnya.

Aku pamit pulang pada nenek. Seragam sekolah saja belum sempat kuganti. Aku pulang dengan berjalan kaki dan hampir saja menyepak batu yang tak bersalah, namun untung saja aku tidak apa-apa. Sepulang ke rumah aku langsung melaksanakan shalat zuhur dan memanjatkan beberapa bait doa kepada Sang Khaliq terutama untuk kesembuhan bapak, hingga akhirnya tertidur dalam sajadah suciku.

***

Keesokan harinya kami sibuk dengan persiapan-persiapan untuk acara makan bersama di sekolah. Rencananya akan diadakan besok sekitar jam 09.00 WIB. Selaku siswa aku ikut mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan. Tapi meskipun begitu pikiranku tak pernah tenang, aku selalu saja teringat bapak di rumah. Kami memang benar-benar ada ikatan batin yang kuat. Apapun yang kulakukan dan kemanapun aku pergi, aku tak pernah merasa tenang mengingat keadaan bapak yang sedemikian rupa.

Berbeda dengan adikku Sarah, dia tak pernah kelihatan cemas atas musibah yang menimpa bapak. Bahkan untuk menjenguk sebentar saja dia terlihat sangat keberatan. Dia mempunyai seribu satu alasan untuk menolaknya, entah apa yang ada di dalam benaknya. Bahkan dia enggan menginjakkan kaki di rumah bapak, buktinya saat ibu menyuruh mengantarkan makanan saja dia menolak. Ketika sudah dipaksa barulah dia mengangkat pantatnya dan itu pun dengan muka masam. Sesampai di sana Sarah tidak menunggu lama, ia langsung bergegas pulang ke rumah dengan sepeda mini merah jambunya.

Zahra yang juga teman sebangkuku sepertinya dapat menangkap ada yang berbeda dari tingkahku hari ini, “Nay, kenapa kamu hari ini? Kakekmu masih sakit?”

“Masih Ra, dan sekarang terlihat semakin parah” jawabku sambil menarik napas panjang.

Dia mencoba menambal semangatku agar mampu bangkit dari kesedihan.

“Nay kamu jangan sedih, kakekmu sudah lanjut usia jadi wajar saja kalau dia sakit-sakitan dan pasti ada pelajaran yang bisa diambil dari musibah ini. Salah satunya kamu harus bisa sabar dan dapat menerima kenyataan, aku yakin kakekmu akan tambah sakit kalau tahu kamu seperti ini”.

Aku pun menjawab dengan senyuman dan disertai seutas ucapan terima kasih “Makasih Ra”.

Lalu kami pun tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Perkataan Zahra tadi pun ada benarnya ku rasa.

Tanpa terasa jam sudah menunjukkan angka satu dan bel berbunyi nyaring. Berarti sudah waktunya pulang. Semua sudah selesai dikerjakan dan hanya beberapa hal kecil saja yang memang tidak perlu disiapkan hari ini. Sampai di rumah aku langsung salat terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan makan siang. Tadinya aku sempat berpikir untuk singgah dulu di rumah bapak, tapi setelah ku pertimbangkan aku memilih untuk menjenguknya nanti sore saja agar aku bisa berlama-lama di sana. Setelah makan siang, aku langsung ke kamar untuk istirahat, melihat buku-bukuku yang sebentar lagi akan menjadi kenangan. Dulu, buku-buku ini yang selalu menemaniku belajar, namun  masa-masa berat itu telah ku lewati yaitu ujian nasional (UN). Semua cerita yang telah terlewati selama tiga tahun silam terbayang lagi di benakku. Aku teringat tidak lama lagi aku akan berpisah dengan sekolah. Semuanya akan berubah dan aku akan memasuki dunia yang baru. Akhirnya, aku pun tertidur sembari mengobrak-abrik kenangan masa lalu yang melintas dipikiranku tanpa permisi.

***

Sore itu aku sudah bersiap-siap untuk ke rumah bapak bersama ibu, tetapi tidak dengan adikku karena kali ini Sarah ingin mengerjakan tugas sekolah di rumah Dinda, teman sebangkunya. Aku dan ibu berjalan menyusuri jalan aspal yang membawa kami sampai ke rumah bapak. Sore ini terasa begitu sejuk dengan belaian sang bayu yang mengibarkan jilbabku. Tak terasa kami sudah sampai di rumah bapak dan kami langsung ke kamarnya, terlihat bapak tidak sedang tidur tapi matanya hanya terpejam dengan butir tasbih yang melingkar di tangannya. Mendengar suara pintu, dia pun membuka matanya dan mendapati tiga sosok wanita yaitu istri, anak dan cucunya. Sore itu bapak kelihatan sedikit ceria dari pada biasanya, sinar matanya sedikit lebih cerah dari kemarin.

Seiring  dengan tenggelamnya  sang surya, azan magrib pun berkumandang. Aku, nenek dan ibu langsung mengambil wudu untuk melaksanakan salat  magrib. Sedangkan bapak tetap berbaring di tempat tidurnya karena bapak memang tidak sanggup lagi bangun,  bahkan untuk duduk saja dia sudah tidak sanggup lagi. Selesai salat kami makan malam bersama  di kamar bapak. Tak terperikan rasa bahagia yang kurasakan karena telah diberi keluarga yang sehangat ini.

Jam telah menunjukkan angka  sembilan, aku dan ibu langsung pamit pulang. Selain karena malam yang hampir larut, kami juga harus pulang karena harus menjemput adikku Sarah di tempatnya mengaji yang tak begitu jauh dari rumah. Sesampai di rumah, aku langsung salat isya dan mempersiapkan segala keperluan untuk acara besok di sekolah. Sedangkan adikku langsung terlelap dengan selimut merah jambunya. Meskipun dia anak yang susah diatur, tapi dia tetaplah adikku yang manis, apalagi saat terlelap seperti ini. Akhirnya aku ikut terlelap di sebelahnya dalam kesunyian malam yang penuh dengan bintang.

***

Jam masih menunjukkan angka empat, tetapi entah kenapa ibu membangunkanku pagi-pagi sekali begini. Napasnya begitu cepat seperti orang yang sedang berlari, ”Beudeh neuk, yak tajak bak rumoh bapak.” Untuk sejenak aku sempat tercengang, napasku terasa berhenti. Pasti ada sesuatu yang terjadi dengan bapak, begitu pikirku. Dalam sekejap kantukku hilang, dan aku membangunkan adikku. Ya Allah apa yang terjadi padanya, aku tak dapat membendung limpahan air mataku dalam kedinginan yang mencekam dan membuat tubuhku terasa menggigil, bulu romaku serasa berdiri. Selain kedinginan, aku juga merasa takut karena kesunyian yang membuat kami saling menggenggam tangan dengan erat. Kami berjalan dengan setengah berlari hingga kami bisa lebih cepat sampai ke rumah bapak.

Sesampai di sana terlihat nenek sedang menangis berlinangan air mata di samping tubuh bapak yang sudah terbujur kaku, kelihatan begitu pucat. Saat itu pula aku menyentuh tubuhnya yang terasa dingin. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” ternyata semalam adalah terakhir kali aku dapat menyalaminya.

Sekarang aku benar-benar tidak dapat melihat lagi senyumnya yang rapi tanpa ada gigi satupun.  Aku tidak dapat lagi melihat bapak mendayung sepeda ontelnya. Aku tidak dapat lagi menyalaminya, berbincang-bincang dengannya, dan tak dapat lagi melihatnya sibuk dengan ayam kesayangannya. Sekarang bapak telah pergi, dia tidak lagi bersamaku. Aku hanya dapat bertemu dengannya dalam mimpi. Ya Allah berilah dia tempat terbaik di sisimu. Aku akan melewati hari-hari tanpa kehadiran bapak di sampingku. Tapi aku akan selalu mengenang bapak. Aku yakin bapak akan selalu ada di dalam hatiku dan bapak akan tetap menjadi lentera yang menerangiku dengan senyumnya ketika aku diliputi kesedihan. Bapak yang selalu memberi motivasi disetiap masalah yang kuhadapi. Bapak adalah sosok yang paling berarti bagiku, apalagi setelah kepergian ayah.

Aku melirik ke arah adikku Sarah dan mataku menangkap ada setetes air bening di sudut matanya, bibirnya bergetar memanggil nama “Bapak”. Aku dapat merasakan penyesalan yang dirasakan Sarah, aku pun merasakan hal yang sama. Aku menyesal dan berpikir andai saja aku tahu begini kejadiannya maka aku tidak akan beranjak dari sisinya. Air mata penyesalan mengalir turun dari mataku, dan Sarah adikku mengalami penyesalan yang dalam karena tak pernah mempedulikan bapak semasa hidupnya.

Selamat Jalan Bapak…

 

Oleh: Nailur Rahmah

Comments

comments