Beranda Artikel Mari Bersyukur

Mari Bersyukur

BERBAGI
Doc
loading...

Oleh: Safinal

Salah satu tujuan manusia itu diciptakan ialah untuk bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah kepada manusia. Namun manusia tidak pernah sadar sesungguhnya Allah s.w.t. tidak pernah putus memberikan nikmat, rahmat dan kasih sayang kepada manusia sebagai makhluk yang Allah muliakan diantara makhluk lainnya.

Sebuah istilah menarik “rumput tetangga lebih hijau” hal inilah yang membuat hati manusia menjadi resah. Dimana rasa iri menyelimuti hati, diri yag selalu ingin menjadi orang lain, diri yang selalu memandang dirinya sangat kurang dibandingkan dengan tetangga, diri yang selalu ingin tak terkalahkan harta atau martabatnya oleh orang lain. Seakan ia yang paling lemah walaupun mobil miliknya terparkir dalam garasi yang tersembunyi.

Sungguh beruntung orang yang berhasil menghargai dirinya dengan bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah. Akan bertambahlah ketenangan dalam hidupnya dan akan ada kesejukan dalam rumah tangganya. Perkataan jauh dari berbagai gunjingan dan celaaan, hati jauh dari resah tanpa arah karena ia bersyukur dan selalu ingat , Allah telah menganugerahkan yang terbaik dalam hidupnya untuk menjalani realita kehidupan.

Walaupun seluruh pepohonan yang ada di dunia dijadikan pena dan seluruh air di lautan dijadikan sebagai tintanya, niscaya tidak akan cukup untuk menuliskan seberapa banyak nikmat dan rahmat yang telah Allah s.w.t. anugerahkan kepada kita. Sifat manusia yang selalu melihat keatas atau melihat kelebihan orang lain membuat hati kurang bersyukur. Lihatlah sekeliling, maka kita akan menemukan banyak hal atau fenomena yang akan membuat kita terharu atas semua karunia dan anugerah Allah kepada kita. Masih pantaskan kita mengatakan dan mengeluh bahwa Allah tidak adil?

Allah tidak pernah berhenti memberikan nikmat kepada manusia, agar setiap orang dan makhluk lainnya dapat menjalani kehidupan secara patut. Nikmat yang diberikan itu sangat banyak, melimpah, dak tak terhitung. “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar maha pengampun lagi maha penyayang” (QS. An-Nahl 16:18).

“… sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azabku akan sangat pedih,” (QS. Ibrahim:7)

Secara sederhana, berkedipnya mata, tarikan nafas dan dekatan jantung kita merupakan nikmat ilahi. Hitunglah berapa banyak mata kita berkedip, nafas kita keluar-masuk, dan jantung yang terus berdetak setiap harinya. Sungguh tak akan mampu kita hitung semua nikmat tersebut. Lihatlah oksigen yang kita hirup setiap saaat yang menopang tubuh kita untuk hidup, bandingkan saja dengan oksigen yang disiapkan dirumah sakit bagi pasiennya. Harga tabung, selang dan oksigennya tidak murah untuk dibayar para penggunanya. Bayangkan, bagaimana jika setiap hari dalam kehidupan normal, kita harus membayar oksigen yang telah kita hirup? Sudah berapa rupiah yang harus kita keluarkan ? Tak akan terhitung jumlahnya.

Subhanallah, hidup ini sungguh sangat mahal, dis inilah kasih sayangnya Allah kepada kita dan betapa tak terhitungnya nikmat yang telah Allah berikan, Alhamdulillah. Maka, sangatlah pantas rasanya kita bersyukur kepada Allah jika setiap yang hidup didunia tak mengakui pernah mendapat nikmat dan karunia Allah. Karen setiap detik kita hidup pasti ditandai dengan tarikan-tarikan nafas yang merupakan nikmat besar tak ternilai harganya.

Orang yang kelihatan sangat miskin, tidak memiliki apa-apa, tak sepatutnya berkata bahwa Allah tidak memberikan kasih sayang kepada-Nya sehingga tidak mendapatkan nikmat. Sebab nikmat bukan hanya harta dan uang yang sangat tidak beararti bila dibandingkan dengan nikmat hidup, kesehatan dan helaan nafas.

Sungguh nikmat, karunia dan rahmat Allah tak pernah putus dan akan terus berlimpah kepada setiap orang dalam segala kondisi kehidupannya. Allah tidak pernah berhenti memberi nikmat dan karunia kehidupan dunia kepada para hamba-Bya tanpa pandang bulu, warna kulit, jenis kelamin, usia, status maupun kondisi sosialnya. Maka sebagai hamba-Nya, kita harus senantiasa bersyukur dan tidak boleh berputus asa untuk sungguh-sungguh serta tulus bersyukur kepada Allah s.w.t.

*Penulis benama Safinal, mahasiswa Program Studi (Prodi) Ekonomi Islam, Universitas Syiah Kuala angatan 2015.

BERBAGI