Beranda Artikel Manifestasi Penyakit Akut Melalui Deforestasi Berkelanjutan

Manifestasi Penyakit Akut Melalui Deforestasi Berkelanjutan

BERBAGI
loading...

Maisyarah Rita | DETaK

Banda Aceh– Hutan zaman dahulu adalah tempat yang menegerikan, peneuh dnegan lonceng gemerincing kengerian spenuh gunung yang menelan siapa saja yang memasukinya dengan niat yang tidak baik, namun zaman sekarang, hutan adalah surge, kehilangan hutan adalah kengerian yang tak terhindarkan, respon  kengerian bencana yang dieskpresikan alam hutan terasa lebih mengerikan dibanding dengan amukan satwa yang menghilangkan korban sebagai tumbal tahunana yang diyakini masyarakat “sesepuh” zaman dahulu yang dinilai sebagai ajaran kuuno yang primitive dan keindahan karya yang syarat makna. Suasana gersang dan penuh dengan suara mesin-mesin penebang pohon terasa lebih menegerikan, ayah ibu, semua usaha yang terbilang tidak mendengarkan alam dan mencoba merombak alam bentukan Tuhan akan terbalaskan oleh  bencana buasnya hewan liar hutan kelaparan yang konflik ke pemukimam warga karena kehilangan makan, murka bencana yang tak terlekakkan bagai balasan yang pasti  untuk  manusia yang kelewat batas.

Hilangnya hutan, berarti hilangnya segala kearifan lokal masyarakat akibat keserakahan semata. Hutan adalah kearifan lokal yang primitive, padahala adalah warisan kebudayaan tak benda yang tak ternilai harganya, yang menjadi ciri khas. Tidak ada anak lereng pegunungan yang dilaporkan mengalami kondisi malnutrisi, anak-anak lereng pegunungan  berbadan tegap dan sehat, hutan menyediakan semuanya untuk kesejahteraan dan kedamaian. Sontak beberapa dekade lalu, para penggembor agen perubahan datang menyemarakkan hasil eksplorasi hasil hutan alam dengan dalih pembangunan basic modern yang berkedok aksi penjualan hasil hutan makan untung ciptaan Tuhan dengan serakah berbuncit-buncit perutnya hingga melotot bola matanya, dengan embel-embel menuju masyarakat yang lebih berkelas mampu memprovokasi masyarakat yang hidup menjaga nilai-nilai alam leluhur meninggalkan murka bencana pada masyarakat yang berkhianat karena meninggalkan leluhurnya, berkhianat pada keserasian -mereka, alam dan manusia yang tercipta sekian lama.

loading...

Ketidakserasian antar alam dan umat manusia melahirkan gejolak berupa bencana yang tidak terelakkan, dampak bencana  berujung pada krisis kesehatan dan timbulnya bermacam penyakit baru yang banyak dikaitkan dengan faktor perubahan iklim dunia yang ekstrim kian senter menjadi bahan pemberitaan. Penyakit baru diyakini hadir melalui jalur yang kompleks dari perubahan iklim.  Deforestasi dan degradasi lahan hutan menjadi lahan pertanian monokultural secara nyata merupakan aksi pengurangan jumlah keanekaragaman hayati hutan yang belum dapat diidentifikasi hingga saat ini. Lahan hutan hujan tropis yang juga kaya keanekaragaman hayati, hingga saat ini diketahui bahwasanya dunia farmasi saat ini sekitar 25% berasal dari tumbuhan, umumnya berasala dari tanaman lokal, 50% dari 250.000 tanaman obat berasal dari tropis, dan dilaporkan hanya sekitar 15% yang baru diketahui spesiesnya dengan sisa 10.000 spesies yang belum teridentifikasi.

Berkurangnya luas tutupan hutan asli yang masih menyimpan banyak rahasisa dan keunikan alam yang belum terjamah oleh pengetahuan ilmiah harus hilang. Manifestasi penyakit akut melalui deforestasi berkelanjutan merupakan cerminana nyata yang dapat digambarkan untuk penyakit-penyakit baru dan aneh yang dianggap terus berinovasi seiring perkembangan zaman. Berkurangnya lahan hutan sama halnya menghilangkan kesempatan bahan baku untuk inovasi bahan baku modifikasi obat-obatan terbaru dan kompleks. Bersiaplah untuk dikepung dalam manifestasi penyakit akut yang semakin runut tak dapat diikuti perkembangannya. []

Sumber Kutipan:

Juli Soeirat dan Mila Dirgawati. 2010. Dampak Potensial Perubahan Iklim Terhadap Kesehatan. Warta Lingkungan. 01/2010.

Editor: Mutia Dara Authari

BERBAGI