Beranda Artikel ‘The Power of Kepepet’ ala Mahasiswa

‘The Power of Kepepet’ ala Mahasiswa

BERBAGI
(Foto: Ist.)

Artikel | DETaK

Mahasiswa adalah sebutan bagi mereka yang melajutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi.  Mahasiswa adalah seorang yang sedang dalam proses menimba ilmu ataupun belajar dan terdaftar sedang menjalani  pendidikan pada salah satu bentuk perguruan tinggi yang terdiri dari akademik, politeknik, sekolah tinggi, institusi dan universitas. Mahasiswa dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai orang yang belajar di perguruan tinggi.

Masyarakat pada umumnya mengangap bahwa mahasiswa adalah orang yang tau akan segala hal. Pada dasarnya, menyandang gelar sebagai mahasiswa bukanlah suatu yang mudah. Bagaimana tidak, mahasiswa di tuntut untuk menjadi orang yang kritis karena mahasiswa  sebagai penerus bangsa. Namun, apa jadinya jika mereka yang dianggap tau akan segala hal dan menjadi generasi penerus bangsa masih tidak peka dan peduli terhadap lingkungan. Meskipun begitu, tidak semua mahasiswa dianggap buruk. Sudah banyak mahasiswa yang mengharumkan nama bangsa.

Masa kuliah merupakan masa yang cukup berat bagi mahasiswa. Dalam proses kuliah, mahasiswa dihadapkan oleh suatu permasalahan seperti tuntutan, keputusan-keputusan, dan pilihan yang perlu di ambil. Banyaknya tuntutan itu membuat mahasiswa sering menunda-nunda tugas yang diberikan oleh dosen.

Jika kita membahas tentang mahasiswa. pasti tidak jauh-jauh dari banyaknya tugas yang diberikan hingga laporan yang tak kunjung usai. Tugas yang beruntun tersebut disebabkan karena mahasiswa yang suka menunda untuk mengerjakan tugas tersebut. Penundaan tugas tersebut dikenal dengan Prokrastinasi. Prokrastinasi yang terjadi pada area akademik disebut sebagai prokrastinasi akademik. Prokrastinasi akademik banyak dilakukan oleh pelajar atau mahasiswa.

Istilah prokrastinasi di ambil dari bahasa inggris yaitu Procrastination. Prokrastinasi merupakan perilaku menunda dengan sengaja kegiatan yang diinginkan, meskipun individu mengetahui bahwa penundaan tersebut dapat menghasilkan dampak negatif. Gruschel, Partzek, dan Fries (2013) menyatakan, kondisi stres  menyebabkan individu mengalami keletihan, masalah tidur, hingga muncul penyakit dalam tubuh. Baumeister (1997) mengatakan bahwa prokrastinasi dapat menyebabkan stres dan memberi pengaruh pada disfungsi psikologis individu.

Individu yang melakukan prokrastinasi akan menghadapi deadline dan hal ini dapat menjadi tekanan bagi mereka sehingga menimbulkan stres. Kerugian lain yang dihasilkan dari perilaku prokrastinasi, menurut Solomon dan Rothblum (1984), adalah tugas tidak terselesaikan, atau terselesaikan namun hasilnya tidak maksimal, karena dikejar deadline.

Sistem Kebut Semalam atau Sistem Kerja Semalam, disingkat SKS, merupakan julukan untuk mengerjakan tugas dikala mendesak. Menurut beberapa mahasiswa yang menggunakan sistem SKS, tugas yang di kerjakan dalam keadaan yang mendesak akan menimbulkan ide-ide yang mendorong mereka untuk menyelesaikan tugas tersebut. Mereka sering menyebutnya “The Power of Kepepet“.

Selain itu, mereka berpendapat bahwa mengerjakan tugas ketika diburu deadline lebih dapat berfikir kreatif. Sayangnya, mereka juga tidak memperdulikan hasilnya maksimal atau hasil yang baik. Mereka berpendapat, hal yang paling utama ialah tugas tersebut selesai tepat pada waktunya. Saat ini, prokrastinasi sudah menjadi budaya di kalangan mahasiswa.

Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi prokrastinasi akademik dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dapat berupa kondisi fisik individu dan kondisi psikologis individu, sedangkan faktor eksternal adalah lingkungan dan gaya pengasuhan orang tua.

Prokrastinasi dapat diatasi dengan memotivasi diri sendiri dengan menentukan tujuan. Buatlah tujuan yang ingin diraih. Misalnya, ingin menyelesaikan studi dalam rentang waktu 3,5 tahun, ingin segera bekerja, memotivasi supaya tidak melakukan prokrastinasi. Lalu tentukan sendiri target waktu penyelesaian tugas. Kemudian, buatlah deadline sendiri mengenai penyelesaian tugas. Sebagai contoh, dua hari setelah pemberian tugas oleh dosen, berusahalah untuk semaksimal mungkin memenuhi deadline yang dibuat.

Sediakan waktu khusus setiap hari untuk mengerjakan tugas secara konsisten jika terlalu sibuk oleh kegiatan non-akademik, misal mengikuti organisasi atau kerja part time, misalnya menggunakan waktu selama satu jam setelah bangun tidur, lakukan hal ini dengan konsisten.

Setelah itu, matikan koneksi internet saat mengerjakan tugas. Terlalu asyik ber-chatting ria melalui sosial media seperti facebook, yahoo messenger, twitter, atau bermain game online menjadi alasan penundaan tugas yang paling sering dilontarkan mahasiswa. Oleh karena itu, selama pengerjaan tugas ada baiknya koneksi internet dimatikan lebih dahulu.

Hal yang paling penting adalah harus yakin atas kemampuan diri sendiri dari hasil tugas yang dikerjakan. Banyak kasus mahasiswa merasa tidak yakin atas kemampuannya dalam mengerjakan tugas, sehingga muncul kecenderungan untuk menunggu teman yang lain mengerjakan dahulu, atau mengandalkan ‘The Power of Kepepet’. Oleh sebab itu, yakinlah dengan kemampuan sendiri untukmengerjakan tugas tidak perlu menunggu teman yang lain mengerjakan lebih dahulu.

Menempelkan kata-kata motivasi untuk mengerjakan tugas di tempat yang sering dilihat, seperti di laptop, pintu kamar, dinding kamar dan tempat-tempat strategis lain yang mudah dilihat mata juga merupakan salah satu upaya untuk tidak melakukan prokrastinasi.

Cara terakhir yang dapat dilakukan adalah memberikan reward (penghargaan bagi diri sendiri jika berhasil menyelesaikan tugas sesuai target dan memberikan punishment (hukuman) jika gagal. Tidak ada salahnya menjanjikan hadiah bagi diri sendiri bila berhasil mengalahkan prokrastinasi.[]

Penulis bernama Nunung Ardila. Ia merupakan mahasiswi jurusan Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, angkatan 2015.

 

Editor: Mohammad Adzannie Bessania

Comments

comments