Beranda Artikel Pengangguran di Aceh Tertinggi se-Sumatera, Salah Siapa?

Pengangguran di Aceh Tertinggi se-Sumatera, Salah Siapa?

BERBAGI
(Ist.)

Artikel | DETaK

Baru-baru ini masyarakat Aceh dihebohkan dengan data yang menunjukkan bahwa angka pengangguran di Aceh tertinggi di Sumatera. Periode Februari 2017, jumlah pengangguran di Aceh mencapai 172 ribu orang, mengalami peningkatan sebesar 1.000 orang dibandingkan kondisi Agustus 2016 yaitu 171 ribu (Serambi, 2017). Ini adalah hal yang sangat memprihatinkan, mengingat di Sumatera hanya Aceh yang memiliki 4 Universitas Negeri sekaligus, belum lagi Universitas Swasta yang tiap tahunnya mencetak banyak sarjana.

Ternyata menjadi sarjana dan mengenyam pendidikan tinggi bukanlah jalan keluar menurunkan angka pengangguran, melainkan hal sebaliknya, para sarjanalah yang suatu hari akan menjadi bom waktu yang mengakibatkan melonjaknya angka pengangguran. Saat berada dalam permasalahan ini, siapa yang harus disalahkan? Apakah ini kesalahan pemerintah yang tak mampu menampung para sarjana muda? Atau kesalahan orang tua karena tidak memiliki relasi yang cukup luas? Atau bahkan kesalahan Tuhan atas takdir yang diberikan? Sebelum kita menunjuk orang lain sebagai pihak yang bersalah, seharusnya kita berpikir dengan bijak, orang lain atau diri kita sendiri sebenarnya yang patut disalahkan.

Selama ini para sarjana hanya berorientasi untuk menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam melanjutkan karir, hal ini juga di dukung oleh pola fikir sebagian masyarakat bahwa bekerja menjadi PNS adalah sebuah pekerjaan yang paling menjanjikan. Hal ini bertolak belakang dengan realita ketersediaan lapangan pekerjaan sebagai PNS yang cukup minim dan tidak mampu untuk menampung seluruh sarjana, inilah yang menjadi penyebab utama semakin banyaknya jumlah pengangguran di Aceh.

Seharusnya para sarjana yang memiliki pendidikan tinggi dapat berpiikir lebih luas dan tidak terjebak dalam dogma masyarakat bahwa PNS adalah lambang keberhasilan. Para sarjana harusnya dapat berpikir lebih kreatif, solutif dan tidak hanya tergantung pada satu profesi. Seperti yang kita ketahui Aceh merupakan sebuah daerah yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, baik dari darat maupun lautnya. Seharusnya ini menjadi sebuah modal bagi masyarakat Aceh untuk bisa menumbuhkan mental berwirausaha agar dapat mengelola potensi sumber daya alam yang ada di Aceh. Peluang berwirausaha masih terbuka begitu lebar bagi masyarakat Aceh, khsusnya para sarjana yang memiliki pendidikan tinggi.

Berwirausaha juga memiliki manfaat yang cukup banyak bagi masyarakat Aceh, selain dapat memanfaatkan sumber daya alam yang ada, berwirausaha juga akan membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyaraat Aceh sehingga angka pengangguran semakin lama bisa berkurang dengan meningkatnya para pelaku wirausaha.

Sekarang saatnya untuk berhenti menyalahkan orang lain, ini saatnya pemuda-pemudi Aceh untuk bangkit, melepaskan segala ketergantungan dan berani untuk bersikap mandiri.   Karena yang patut disalahkan saat kita menjadi seorang pengangguran adalah diri kita sendiri, bukan orang lain. Berhenti mengeluh dan mulailah melakukan sebuah aksi!

Penulis artikel ini adalah Ashhabul Kahfi, mahasiswa Jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. 

Editor: Novita Sary Saputri

Comments

comments