Beranda Artikel Pencari Sensasi dalam Penggunaan Ponsel Pintar

Pencari Sensasi dalam Penggunaan Ponsel Pintar

BERBAGI
(Foto: Ist.)

Artikel | DETaK

Memahami kata pencari sensasi atau sensation seekers mungkin beberapa sudah tidak asing lagi mendengarnya dengan perkembangan teknologi. Individu dapat melakukan apapun yang diinginkan untuk mencapai kepuasan dengan fasilitas yang ada seperti ponsel pintar atau smartphone. Di zaman milenial sekarang ini, semua aktivitas siswa, mahasiswa, pekerja, maupun petinggi negara tidak terlepas dari yang namanya ponsel. Hal tersebut dapat dilihat juga dari intensitas mereka menggunakannya sesuai kebutuhan masing-masing. Orang yang ketergantungan terhadap ponsel menjadikannya sebagai sarana yang mengasyikkan bagi mereka. Ponsel digunakan secara sering dengan tujuan untuk mencapai kepuasan. (Leung, 2008)

Kebutuhan untuk mencari kesenangan atau mencapai kepuasan tersebut dinamakan sensation seeking atau pencarian sensasi. Ruch & Zuckerman menyebutkan bahwa sensation seeking merupakan perilaku yang didefinisikan sebagai kebutuhan akan sesuatu yang berubah-ubah, sesuatu yang baru, dan sensasi yang hebat/kompleks dari sebuah pengalaman, di mana ada kesediaan untuk mengambil risiko dari pengalaman tersebut, baik secara fisik, sosial, hukum, dan finansial. Zuckerman membagi sensation seeking ke dalam empat aspek, yaitu pencarian getaran jiwa dan petualangan, disinhibisi, pencarian pengalaman, dan kerentanan terhadap rasa bosan.

Beberapa penelitian psikologi telah dilakukan terkait sensation seeking. Salah satunya, di mana individu yang mengalami hal tersebut mengetahui bahwa tidak hanya melibatkan perilaku tetapi juga melibatkan pemilihan atau konsumsi media teknologi. Bagdasarov menjelaskan bahwa perhatian merupakan hal yang utama ketika seseorang membutuhkan suatu stimulus. Seseorang yang memasuki situasi di mana suatu informasi dipaparkan (seperti melihat atau membaca media teknologi), maka timbul harapan untuk mencapai suatu keadaan yang dapat menggairahkan atau memuaskan individu.

Individu dengan sensation seeking yang tinggi menunjukkan kebutuhan akan sesuatu yang baru, emosional, menggairahkan, dan memiliki tingkat sensoris yang tinggi. Jika suatu media atau informasi dilihat oleh individu yang membutuhkan stimulus, maka pemusatan atau perhatian pada individu tersebut akan terjadi. (Bagdasarov dkk, 2010)

Hubungannya dengan Ponsel

Terdapat beberapa macam perilaku yang dilakukan untuk mencapai kepuasan dalam teknologi sehingga berujung dengan kecanduan. Arnett (1995) menyebutkan bahwa kecenderungan menggunakan media sebagai alat untuk berkomunikasi, khususnya yang berkaitan dengan sensation seeking. Individu dengan tingkat sensation seeking yang tinggi menggunakan media untuk mendapatkan stimulus yang mereka inginkan. Salah satu media yang banyak digunakan remaja pada saat ini adalah ponsel.

Ponsel tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk menelpon dan mengirim pesan, tetapi juga memungkinkan bagi penggunanya untuk mengakses internet dengan bebas. Internet memberikan kesempatan yang lebih besar bagi individu yang membutuhkan stimulus dan dorongan yang tinggi seperti obrolan, musik, gim, dan menonton video. Oleh karena itu, konsumsi media teknologi khususnya ponsel, dapat mengarahkan individu pada perilaku adiksi.

Penelitian-penelitian mengenai adiksi telah banyak dilakukan beberapa tahun belakangan dengan menunjukkan hasil yang negatif. Soltani melakukan penelitian terhadap 280 pengguna internet dan menemukan bahwa tingkat sensation seeking yang tinggi berkorelasi dengan tingginya tingkat kecanduan pada internet.

Aluja Fabregat pada tahun 2000 juga melakukan penelitian dan menemukan bahwa orang dengan tingkat sensation seeking yang tinggi tertarik untuk menonton film, bermain gim, dan mengunjungi situs web, khususnya situs-situs yang mengandung kekerasan. []

Penulis bernama Yuli Astuti. Ia merupakan mahasiswi Jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala.

Editor: Herry A.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here