Beranda Artikel Keputusan Menentukan Jalan Hidupmu atau Hidup Mengatur Keputusanmu?

Keputusan Menentukan Jalan Hidupmu atau Hidup Mengatur Keputusanmu?

BERBAGI
(Ist.)

Artikel | DETaK

Ketika dihadapkan pada banyak pilihan, terkadang sulit untuk memilih salah satu dari banyak pilihan tersebut. Ada beberapa pilihan yang dipilih terkadang pada akhirnya menjadikan sebuah penyesalan, namun ada juga sebuah pilihan yang membuat terus bersyukur atas pilihan tersebut. Semua tergantung bagaimana mengambil keputusan terhadap hal kecil maupun hal yang besar dalam hidup. Dan lagi, hidup tidaklah seindah novel yang bisa diatur jalan ceritanya. Hidup tetaplah sebuah kejutan-kejutan yang hadir di setiap harinya. Barangkali, keputusan yang terbilang sederhana memiliki dampak yang cukup berarti untuk kehidupan di masa yang akan datang. Keputusan yang mungkin memberatkan langkah sekarang, dapat meringankan beban di masa yang akan datang.

Menurut Kozielecki (dalam Sarwono, 2012) menjelaskan tentang 2 tipe pengambilan keputusan, yaitu Preseptif dan Deskriptif. Teori ini berfokus pada upaya pilihan yang rasional dapat tercipta, bagaimana seseorang menetapkan keseimbangan antara apa yang diperlukan dan apa yang memungkinkan untuk diraihnya. Selain itu juga melihat bagaimana seseorang mencari solusi yang sesuai dalam keputusan. Model teori deskriptif juga menjelaskan bagaimana tingkah laku aktual individu maupun kelompok saat membuat keputusan. Keputusan tersebut melibatkan berbagai faktor dan apa yang ingin didapatkan dari keputusan tersebut.  Selain itu, beberapa penelitian membahas tentang gaya pengambilan keputusan. Setiap orang memiliki gaya berbeda-beda dalam pengambilan keputusan.

Menurut Rowel dan Boulgarides (1992), cara mengambil keputusan dapat digambarkan melalui gaya pengambilan keputusannya. Ada beberapa faktor yang menentukan, yaitu: cara seseorang menerima dan mengerti tanda dari sebuah isyarat-isyarat tertentu, suatu yang dianggap penting menurut pandangan diri sendiri, dan penyebab dari faktor lingkungan sekitar dari pengambilan keputusan tersebut. Seseorang bisa sangat sensitif jika dihadapkan pada berbagai persoalan terkait dengan pilihan dan keputusan. Meskipun tidak semua pilihan harus mengacu pada keputusan, dengan begitu sesuatu yang dianggap penting oleh seseorang menjadikannya menilai dan memahami bagaimana ia merespon suatu pilihan. Gaya pengambilan keputusan merefleksikan cara seseorang bereaksi terhadap situasi yang dihadapinya. Rowel dan Bougarides juga menjelaskan terdapat dua dimensi terhadap pengambilan keputusan, yaitu toleransi terhadap nilai dan toleransi terhadap ambiguitas. Toleransi terhadap nilai merupakan tipe pengambilan keputusan dengan fokusnya pada tugas dan masalah teknis atau berkaitan dengan fokusnya terhadap orang lain maupun masalah sosial. Beda halnya dengan toleransi terhadap ambiguitas, biasanya memiliki kebutuhan yang tinggi terhadap struktur dan kendali dalam hidupnya.

Dari dua dimensi yang disebutkan di atas, membentuk mikro pengambilan keputusan yang dibagi menjadi empat bagian gaya pengambilan keputusan, yaitu direktif, analitis, konseptual, dan behavioral. Direktif biasanya memiliki fokus pada permasalahan teknis dan mereka cenderung lebih cepat dalam penyelesaian masalah karena menitikberatkan pada keyakinan pribadi.  Namun, orang dengan tipe ini memiliki toleransi ambiguitas dan kompleksitas kognitif yang tergolong sangat rendah. Orang seperti ini memiliki kesukaan terhadap hal-hal yang terstruktur dan informasi yang diperoleh secara verbal. Biasanya, orang yang memiliki gaya pengambilan keputusan seperti ini lebih berfokus pada sesuatu dengan pengambilan keputusan yang cepat, mereka lebih suka dengan aturan yang melibatkan intuisi, kemampuan verbal serta melibatkan kebutuhan kekuasaan.

Gaya pengambilan keputusan analitis merupakan pengambilan keputusan yang bersifat teknis dan kebutuhan akan kendali. Orang dengan gaya ini sangat mampu memecahkan masalah dan berusaha sekuat tenaga dengan kemampuan yang mereka miliki untuk mencapai hasil yang maksimal dalam situasi yang dihadapinya. Namun orang dengan gaya ini tidak cepat dalam pengambilan keputusan, mereka banyak mempertimbangkan banyak hal, namun memperoleh hasil keputusan tidak mengecewakan. Kekuatan dari gaya pengambilan keputusan analitis adalah mereka menyukai keragaman serta menginginkan jawaban terbaik pada persoalan, dan melakukan analisis yang sangat hati-hati.

Gaya pengambilan keputusan konseptual memiliki kompleksitas kognitif dan orientasi pada manusia yang tinggi. Sebelum mengambil keputusan, biasanya orang dengan gaya ini cenderung menggunakan data dari berbagai sumber dan mempertimbangkan berbagai pilihan. Mereka ini merupakan orang yang mengambil keputusan sesuai dengan seharusnya. Mereka lebih idealis, kekurangannya adalah mereka terkadang seringkali agresif dan menginginkan pengakuan. Namun, kekuatan mereka adalah memiliki wawasan luas, kreatif, independen, sering memberikan ide-ide baru dan sangat berorientasi pada masa depan.

Gaya pengambilan keputusan behavioral, yaitu mereka yang memiliki tingkat kompleksitas kognitif yang rendah namun orang dengan gaya ini memiliki perhatian yang mendalam terhadap organisasi, sangat menyukai dunia akademisi dan sangat senang akan perkembangan orang lain. Dalam hal apapun mereka lebih mendukung dan memperhatikan kesejahteraan bawahannya. Jika menjadi pemimpin, meraka ini merupakan pemimpin yang sangat mengayomi anggotanya.  Mereka dengan gaya ini memberikan sesi diskusi, terbuka dalam menerima saran-saran, mudah berkomunikasi, menunjukkan sikap yang hangat, empati, persuasif, memiliki keinginan untuk kompromi dan menerima kelonggaran kendala. Namun, penggunaan data yang kurang, gaya ini cenderung fokus pada jangka pendek. Orang dengan gaya ini, menghindari konflik, mencari penerimaan dan sangat berorientasi pada manusia.

Selain beberapa penjelasan terkait dengan pembagian keputusan juga berkaitan dengan sifat atau kepribadian seseorang, sebuah penelitian tahun 1992 oleh Rowe dan Boulgarides juga mengembangkan pengambilan keputusan terhadap perempuan dan laki-laki. Hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa di dalam pekerjaan yang sama, baik laki-laki maupun perempuan, tidak memiliki perbedaaan dalam pengambilan keputusan. Jika ditinjau lebih jauh lagi, sebenarnya kemampuan pengambilan keputusan seseorang sangat dipengaruhi bagaimana kepribadiannya. Tiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menyelesaikan masalah, sehingga keputusan seseorang akan berbeda-beda pula.

Bisa jadi, pengalaman seseorang pada masa lalu membuat mereka belajar dalam pengambilan keputusan sehingga membentuk karakter mereka selanjutnya. Manusia bisa hidup pada lingkungan yang sama namun mereka dapat belajar dari berbagai pengalaman hidup yang berbeda. Persepsi dan nilai adalah hal yang tidak luput dalam memahami keputusan. Persepsi dan nilai akan sangat memengaruhi gaya pengambilan keputusan seseorang. Itu sebabnya jika dihadapkan pada satu pilihan yang sama, orang akan memiliki keputusan yang berbeda-beda, tergantung bagaimana persepsi dan nilai dari sebuah pilihan tersebut.[]

Penulis bernama Melly Ellysa. Ia merupakan mahasiswi angkatan 2015 Jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala.

Editor: Herry Anugerah