Beranda Artikel Internet Membuatmu Nyaman? Be Aware!

Internet Membuatmu Nyaman? Be Aware!

BERBAGI
(Ist.)

Artikel | DETaK

Saat ini internet merupakan aspek sentral dalam kehidupan sehari-hari karena internet menyediakan pilihan yang lebih interaktif (Doring, dalam Eichenberg, Schott, Decker, & Sindelar, 2017). Internet menyediakan banyak peluang positif bagi individu seperti sarana komunikasi dan kencan online, forum diskusi tematik, konsultasi dokter bahkan sistem pendidikan di universitas kini berbasis web (Czajka & Mohr, dalam Eichenberg, dkk., 2017).

Di samping terdapat banyak aspek positif yang ditawarkan oleh internet, aspek negatif dari internet juga semakin banyak ditemukan dan meningkat di masyarakat. Meskipun kebanyakan orang menggunakan internet setiap hari tanpa masalah, namun angka terakhir menyoroti penggunaan internet yang berlebihan merupakan masalah yang signifikan (Muller & Wolfing, dalam Eichenberg, dkk., 2017) yaitu berkisar antara 1,5-11,6%. Sebuah artikel review juga menemukan prevalensi keseluruhan kecanduan game komputer dan internet ialah sebesar 3-5% (Ko, Yen, & Chen, dalam Eichenberg, dkk., 2017).

Young (1996) pertama kali memperkenalkan istilah diagnostik untuk masalah penggunaan Internet yaitu kecanduan internet (Aboujaoude, 2010). Kecanduan internet (Internet addiction) merupakan kondisi kontrol impuls ketika individu merasakan kebutuhan yang tidak tertahankan untuk terlibat dalam aktivitas daring (online) (Warden, Philips, & Ogloff, dalam Halgin & Whitbourne, 2011). Kecanduan internet dapat merujuk pada berbagai layanan berbasis web, seperti game komputer berbasis web (Festl, Scharkow, & Quandt, Eichenberg, dkk., 2017), perjudian online (Gainsbury, dalam Eichenberg, dkk., 2017), cyber-sexsual (konten pornografi) (Dhuffar & Griffiths, dalam Eichenberg, dkk., 2017), atau aplikasi komunikatif seperti obrolan (roomchat) maupun jejaring sosial (Kuss & Griffiths, dalam Eichenberg, dkk., 2017). Namun, perilaku kecanduan yang paling sering ditemukan adalah game role-play berbasis web dan konten seksual (Meerkerk, Eijnden, & Garretsen, dalam Eichenberg, dkk., 2017).

Shapira, Lessig  dan Goldsmith (dalam Aboujaoude, 2010) lima tahun kemudian mengusulkan istilah baru untuk menghindari label “kecanduan internet” yang dianggap kontroversial yaitu Problematic Internet Use (PIU). PIU merupakan sindrom multidimensional yang terdiri dari gejala kognitif, emosional, dan perilaku yang mengakibatkan kesulitan seseorang dalam mengelola kehidupannya di saat offline (Caplan, Williams & Yee, 2009).

Caplan (2010) mengelompokkan gejala utama PIU menjadi empat gejala utama, yang pertama, Preference for Online Social Interaction (POSI), yaitu pemikiran lebih nyaman untuk berinteraksi interpersonal secara online dibandingkan interaksi sosial tatap muka. yang Kedua Mood Regulation, merupakan kecenderungan kecemasan sosial yang dimiliki individu sehingga lebih memilih untuk berinteraksi secara online. Selanjutnya Deficientself-regulation (cognitive preoccupation compulsive internet use) mengacu kepada pola pemikiran obsesif yang tidak bisa berhenti memikirkan aktivitas online dan ketidakmampuan untuk mengontrol pemakaian internet, dan yang terakhir  adalah Negative Outcomes yaitu pengaruh negatif pada pekerjaan pribadi, akademik, kehidupan personal, lingkungan sosial individu yang diakibatkan oleh penggunaan internet yang berlebihan.

Caplan (2005) menekankan bahwa gejala kognitif penting PIU adalah kecenderungan interaksi online yang lebih sering dibandingkan interaksi sosial tatap muka dimana individu lebih merasa aman, percaya diri, dan lebih nyaman berinteraksi secara online yang mengarahkan pada perilaku online secara terus-menerus.

Hasil penelitian Odaci & Celik (2013) mengenai penggunaan internet berlebihan, mengatakan bahwa seseorang yang mengalami PIU menggunakan internet lebih dari 5 jam per hari dan umumnya menghabiskan sebagian besar waktunya secara online dengan menggunakan aplikasi komunikasi interpersonal seperti chatroom dan multiplayer interaktif seperti games, dibandingkan pengguna internet non-dependen yang hanya mengakses website online seperti email (Young,dalam Caplan, 2005).

Individu akan menghabiskan jumlah waktu yang terus meningkat dalam aktivitas online dan dapat mengarah ke penarikan sosial, pengabaian diri, pola makan yang buruk, serta masalah keluarga (Cao, Sun, Wan, Hao & Tao, 2011).

Bagaimanakah dengan Anda? Berapa lama waktu yang Anda habiskan dalam sehari untuk berinteraksi secara online? Apakah Anda masih dapat mengontrol waktu penggunaan internet? Mungkin beberapa pertanyaan tersebut dapat menjadi reminder dalam mengevaluasi penggunaan internet kita sehari-hari. []

Penulis bernama Cut Risha Fachrunnisa’, ia merupakan mahasiswi jurusan Psikologi angkatan 2014 Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala.

Editor : Missanur Refasesa

Comments

comments